Mamuju, Mesakada.com — Komunitas Driver Pemprov Sulbar, Tarrare Community tak menerima sikap manajemen RSUD Sulbar yang menolak Hendra, seorang sopir DPMD Sulbar yang kecelakaan dan meninggal dunia akibat tak mendapat penanganan serius, Senin 21 April 2025.
Peristiwa tragis itu terjadi di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Salupangi, Kabupaten Mamuju. Hendra mengalami luka parah di bagian paha akibat kecelakaan dan langsung dibawa ke RSUD Sulbar. Namun, Hendra tidak mendapatkan pertolongan medis dengan alasan ruang perawatan penuh.
“Kondisi saudara kami kritis dan mengalami pendarahan hebat di bagian paha, tapi tidak ditangani dan tidak diberikan pertolongan pertama saat tiba di RSUD Sulbar. Ini sungguh tidak manusiawi,” ujar Ketua Tarrare Community, Guntur Kade, Rabu 23 April.
Ia menilai, sikap rumah sakit yang menolak pasien dalam kondisi darurat hanya karena alasan “bed full” tidak bisa diterima. Terlebih, pihak RSUD Sulbar disebut justru menyarankan agar korban dibawa ke rumah sakit lain.
“Pernyataan klarifikasi dari RS Regional yang menyangkal adanya penolakan malah memicu kemarahan kami, terutama keluarga korban. Faktanya, almarhum sudah kritis saat masih di atas mobil pick-up, tapi malah diminta dirujuk ke RS lain,” ungkap Guntur.
Guntur menyebut, komunitasnya awalnya enggan bersuara di media. Namun, pernyataan RS Regional yang dinilai membela diri dan mengklaim telah bertindak sesuai SOP membuat mereka angkat bicara.
“Kami sebenarnya tidak berniat berkomentar di media dan sudah menyerahkan kasus ini ke Pemprov. Tapi karena klarifikasi RS seolah-olah mereka sudah bertindak benar, kami harus bersuara. Kami mengecam keras tindakan mereka agar tidak ada lagi ‘Hendra-Hendra’ lain yang mengalami hal serupa,” tegasnya. (*)





