Mamuju, Mesakada.com – Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di Kabupaten Mamuju diharap mengubah pola penyajian dan distribusi informasi agar lebih sesuai dengan perilaku masyarakat di era media sosial.
Dorongan itu disampaikan penulis dan konsultan storytelling, Iqbal Aji Daryono, saat menjadi narasumber Bimbingan Teknis (Bimtek) Kemitraan Informasi dengan KIM yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Mamuju, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Manajemen Media Sosial dan Strategi Distribusi Konten KIM”. Dalam pemaparannya, Iqbal menekankan teknologi tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi turut mengubah cara masyarakat menerima informasi dan berinteraksi.
Data We Are Social dan Meltwater Oktober 2025 mencatat identitas pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta atau 62,9 persen dari total populasi. WhatsApp menjadi platform dengan penggunaan tertinggi, disusul Instagram, Facebook, YouTube dan TikTok.
Menurut Iqbal, karakter publik digital cenderung cepat, impulsif, reaktif dan emosional. Masyarakat juga semakin banyak mengonsumsi konten visual dan audio visual sehingga pola penyampaian informasi perlu menyesuaikan karakter tersebut.
Jurnalisme Soto Pisah
Iqbal memperkenalkan konsep “Jurnalisme Soto Pisah” untuk menggambarkan pola distribusi informasi di media digital. Informasi tidak harus selalu disajikan sekaligus dalam satu konten utuh, tetapi dapat dipecah menjadi beberapa bagian yang disampaikan secara bertahap dan tetap saling terhubung.
Pola tersebut berbeda dengan jurnalisme konvensional yang umumnya menyajikan informasi secara utuh dengan unsur 5W+1H dalam satu berita.
Ia juga menyoroti tantangan KIM dalam membuat konten positif tetap menarik di tengah persaingan dengan konten negatif dan clickbait. Tantangan lainnya adalah menentukan fokus agar pesan yang disampaikan tidak terlalu luas.
Untuk itu, Iqbal memperkenalkan formula STEPPS dari Jonah Berger yang terdiri atas Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value dan Stories. Kerangka tersebut dapat digunakan sebagai pendekatan dalam membuat konten yang memiliki nilai sosial, relevan dengan percakapan publik, menyentuh emosi, mudah terlihat, bermanfaat dan dikemas melalui cerita.
Website dan Media Sosial Punya Fungsi Berbeda
Iqbal juga membedakan fungsi situs web resmi dan media sosial lembaga. Website resmi berperan sebagai corong institusi, etalase lembaga sekaligus sumber rujukan yang menyajikan informasi secara akurat dan terstruktur.
Sementara media sosial lebih berfungsi membangun kedekatan dengan masyarakat melalui komunikasi yang informal, interaktif dan egaliter. Karena itu, KIM perlu menyesuaikan format, gaya bahasa dan strategi distribusi konten dengan karakter masing-masing platform.
Dengan pola tersebut, informasi mengenai program, potensi dan pembangunan desa maupun kelurahan diharapkan tidak hanya tersedia, tetapi juga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif. (*)







