Mamuju, Mesakada.com – Perayaan Jumat Agung di Paroki St. Maria Mamuju berlangsung aman dan penuh khidmat, Jumat. Rangkaian kegiatan diikuti ratusan umat dengan suasana yang sarat makna refleksi iman.
Kegiatan diawali sejak pagi hari dengan Tablo atau Jalan Salib Hidup yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) dan dipimpin oleh Kak Shelin. Tablo yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WITA di kompleks paroki tersebut diikuti sekitar 300 umat yang tampak khusyuk mengikuti setiap adegan.
Penampilan Tablo ditutup dengan lagu yang dibawakan Pastor Paroki St. Maria Mamuju, Wilhelmus Tulak.
Memasuki pukul 15.00 WITA, ibadah Jumat Agung dimulai. Pastor Wilhelmus yang memimpin perayaan langsung sujud di depan altar sebagai simbol kerendahan hati dan penghormatan. Perayaan dilanjutkan dengan liturgi sabda serta pembacaan kisah sengsara Yesus (Passio) yang dinyanyikan.
Dalam renungannya, Pastor Wilhelmus mengajak umat menjadikan Pekan Suci, atau yang juga dikenal sebagai Semana Santa, sebagai momen untuk bercermin dan mengevaluasi perjalanan hidup.
Ia menyinggung bagaimana perkembangan zaman, termasuk melalui media sosial, turut memengaruhi cara umat merayakan iman. Namun, pengalaman pandemi juga menjadi pengingat bahwa manusia tidak dapat berjalan tanpa Tuhan. Bahkan di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, semakin banyak kaum muda yang kembali mencari Tuhan dan Gereja.
“Pekan Suci adalah kesempatan untuk melihat diri sendiri. Jalan salib, daun palma, dan seluruh rangkaian liturgi adalah cermin kehidupan kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, inti dari Pekan Suci terletak pada dua hal utama, yakni kasih dan salib. Menurutnya, tidak ada kasih tanpa pengorbanan, dan tidak ada pengorbanan tanpa salib.
Melalui Tablo yang ditampilkan, umat diajak memahami kisah sengsara Yesus bukan sekadar drama, tetapi refleksi nyata kehidupan manusia, tentang pengkhianatan, ketidaksetiaan, hingga sikap lepas tangan terhadap tanggung jawab.
Umat pun diajak memperbarui komitmen iman, menjadi pribadi yang menang dalam kasih, sebagaimana Yesus yang menghadirkan kemenangan bukan secara duniawi, melainkan melalui pengorbanan.
Dalam perayaan ini juga dilaksanakan kolekte untuk Tanah Suci yang dikelola oleh Ordo Fransiskan sebagai bentuk kepedulian umat terhadap tempat kelahiran Yesus.
Perayaan Jumat Agung menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat untuk melihat diri di hadapan salib Kristus, apakah tetap setia dalam kasih atau justru menghindari pengorbanan.
Di tengah dunia yang penuh konflik dan egoisme, pesan salib kembali ditegaskan: cinta lebih kuat daripada kebencian, dan pengorbanan tidak pernah sia-sia. Umat pun berharap melalui perayaan ini, iman semakin dimurnikan dan kehidupan menjadi kesaksian nyata kasih Kristus. (ajs)






