Mamuju, Mesakada.com — Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) bukan sekadar organisasi sosial kemasyarakatan, tetapi menjadi rumah bersama bagi warga asal Sulawesi Selatan yang hidup di tanah rantau.
Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Sulawesi Barat, Haedar Harun.
Menurutnya, keberadaan KKSS menjadi ruang untuk menjaga persaudaraan, memperkuat silaturahmi, sekaligus menjadi wadah bagi warga Sulsel dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan di daerah perantauan.
“KKSS adalah rumah bersama bagi warga Sulawesi Selatan di perantauan. Di dalamnya kita menjaga silaturahmi, memperkuat persaudaraan dan saling membantu,” kata Haedar Harun.
Ia menjelaskan, KKSS menghimpun masyarakat asal Sulawesi Selatan yang berada di berbagai daerah di luar kampung halaman. Meski telah lama menetap di tanah rantau, hubungan kekeluargaan dan ikatan dengan sesama warga Sulsel tetap perlu dijaga.
Menurut Haedar, semangat kekeluargaan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama KKSS. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menampung aspirasi serta memperhatikan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat perantauan.
“Yang kita bangun adalah bagaimana warga Sulsel di rantau tetap merasa memiliki keluarga. Ketika ada persoalan, kita hadir untuk saling membantu dan menguatkan,” ujarnya.
Selain memperkuat silaturahmi, KKSS juga memiliki peran dalam menjaga nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan. Keberagaman latar belakang masyarakat seperti Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja menjadi bagian dari kekayaan yang hidup berdampingan di tanah rantau.
Haedar menilai, nilai-nilai seperti Sipakatau, Sipakalebbi dan Sipakainge penting terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sipakatau mengajarkan untuk saling memanusiakan, Sipakalebbi menekankan pentingnya saling menghargai, sementara Sipakainge mengandung semangat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
“Nilai-nilai ini yang harus terus kita jaga. Kita datang ke tanah rantau bukan untuk membangun jarak, tetapi untuk membangun persaudaraan dengan siapa pun,” jelasnya.
Tak hanya bergerak dalam bidang sosial dan budaya, KKSS juga terus mendorong kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan ekonomi. Semangat gotong royong menjadi modal penting untuk membantu sesama anggota sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat di daerah tempat warga Sulsel bermukim.
Di Sulawesi Barat, Haedar berharap KKSS dapat terus menjadi jembatan persaudaraan antara warga Sulsel sekaligus menjadi mitra dalam membangun kehidupan sosial kemasyarakatan.
Ia menegaskan, menjadi warga perantauan tidak berarti kehilangan hubungan dengan kampung halaman. Justru, ikatan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar di daerah tempat tinggal.
Dengan semangat Sipakatau, Sipakalebbi dan Sipakainge, KKSS diharapkan tidak hanya menjadi wadah untuk berkumpul, tetapi juga menjadi rumah persaudaraan yang mampu menjaga kebersamaan, memperkuat harmoni dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. (*)







