Majene, Mesakada.com – Momentum buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan silaturahmi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Majene tak hanya sekadar ajang pertemuan biasa.
Di balik suasana hangat itu, turut hadir para senior dan petinggi HMI di Sulbar sekaligus menjadi ruang temu dan penyatuan gagasan.
Salah satu poin penting yang pada dialog menjelang buka puasa itu, membahas tentang pentingnya menjawab Marwah HMI serta arah kaderisasi dan dinamika organisasi.
Ketua KAHMI Sulawesi Barat, Syamsul Samad, menilai HMI saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, terutama dalam merespons situasi eksternal yang terus bergerak.
“Saya lihat hari ini, HMI semakin berkembang dengan situasi eksternal yang sedang berkembang. Artinya, ada kemajuan dalam dinamika internal yang selama ini terus berjalan,” ujar Syamsul Samad dalam sambutannya.
Ia menegaskan, eksistensi HMI harus terus dirawat dengan fondasi yang tidak boleh dilupakan yakni proses pengkaderan yang menjadi jantung organisasi.
“Kehadiran HMI saat ini harus terus dirawat. Dan yang perlu diingat, inti dari HMI itu ada pada proses pengkaderan. Tujuan kita ber-HMI adalah merawat dan menciptakan kader sebagai bentuk pengabdian tertinggi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ia juga mengapresiasi kepada HMI Majene atas undangan yang mempertemukan lintas generasi dalam suasana silaturahmi dan buka puasa bersama.
Senada dengan itu, Presidium KAHMI Sulbar, Mu’min, menyoroti pentingnya memaknai perbedaan dalam dinamika organisasi, termasuk dalam konteks politik.
Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara berhenti berproses dan tetap ber-KAHMI. Dari relasi pertemanan yang terbangun, justru lahir ruang untuk merancang strategi, termasuk dalam arena kontestasi politik.
“Dalam kontestasi, kita tetap bertarung. Boleh berbeda, bahkan berseberangan. Tapi proses itu yang kita nikmati. Itu yang mendewasakan kita secara politik, tanpa harus bermusuhan secara pribadi. Di situlah indahnya berhimpun di HMI,” ujar Mu,min.
Ia menambahkan, dinamika organisasi, termasuk konflik, merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan organisasi. Justru dari situ, kata dia, karakter kader diuji dan ditempa menjadi lebih matang dan semakin dewasa.
“Salah satu alasan kita selalu hadir di forum seperti ini karena dinamika itu menyenangkan. Dalam organisasi, kita butuh konflik. Itu bagian dari proses membentuk dan menguji karakter agar semakin dewasa,” pungkasnya.(*)







