Mamuju, Mesakada.com – Euforia Piala Dunia FIFA 2026 berpotensi tidak dirasakan secara merata di Provinsi Sulbar. Sebab, sekitar 80 desa di wilayah pegunungan dan pesisir masih masuk kategori blank spot, sehingga terancam kesulitan mengakses siaran ajang sepak bola terbesar dunia tersebut.
Data Pemprov Sulbar menunjukkan sekitar 12 persen wilayah masih belum terjangkau layanan telekomunikasi dan penyiaran yang memadai. Kondisi ini menjadi tantangan utama menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan disiarkan melalui TVRI.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (KominfoSS) Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar mengakui, masih banyak desa yang belum mendapatkan akses sinyal karena kendala infrastruktur, anggaran, dan kondisi geografis.
“Penanganan infrastruktur intervensi blank spot ini dipengaruhi berbagai faktor. Selain anggaran, juga soal medan,” kata Ridwan, Jumat (7/6/2026).
Untuk mengantisipasi masyarakat di wilayah blank spot tidak kehilangan akses menonton Piala Dunia, Pemprov Sulbar kini menyiapkan sejumlah solusi, termasuk mendorong penyediaan fasilitas nonton bareng (nobar) resmi di berbagai daerah.
Selain itu, Pemprov juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk memperkuat infrastruktur transmisi siaran TVRI agar jangkauan layanan dapat diperluas.
Ridwan mengatakan, pemerintah akan menggencarkan sosialisasi mengenai akses resmi menonton Piala Dunia sekaligus memastikan masyarakat di daerah terpencil tetap dapat menikmati pertandingan.
Pemprov Sulbar berharap momentum Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui kegiatan nobar yang melibatkan pelaku UMKM.
“Kalau bisa semua menikmati, semua gembira, dan paling penting bagi kami itu bisa berkontribusi menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Ridwan. (*)






