Mamuju, Mesakada.com – Sebanyak 3.833 balita di Kabupaten Mamuju tercatat mengalami stunting berdasarkan progres entry pengukuran balita Dinas Kesehatan Mamuju pada Agustus 2026.
Angka tersebut mencapai 30,05 persen dari 12.757 balita yang telah ditimbang. Sementara total sasaran balita yang harus mendapatkan pengukuran mencapai 22.652 anak.
Artinya, hingga saat ini baru 56,32 persen balita sasaran yang telah ditimbang. Masih terdapat lebih dari 40 persen sasaran yang belum masuk dalam pengukuran.
Data tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mamuju. Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi, meminta para orang tua asuh anak stunting tidak hanya menjalankan peran secara administratif, tetapi turun langsung mengecek kondisi anak asuh di lapangan.
Penegasan itu disampaikan Sutinah saat menghadiri Kegiatan Monitoring, Advokasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Program Bangga Kencana dan Taki Asuh Stunting Tingkat Kabupaten Mamuju, di Lantai 3 Kantor Bupati Mamuju.
Menurut Sutinah, angka tersebut menunjukkan pentingnya penguatan pemantauan dan pendampingan anak secara langsung. Orang tua asuh diminta rutin mendatangi lokus Taki Asuh Stunting untuk melihat perkembangan anak sekaligus memastikan intervensi yang diberikan benar-benar diterima.
“Sesuai dengan visi misi Pemerintah Kabupaten Mamuju yaitu intervensi penurunan stunting, maka saya sangat mengharapkan peran serta bapak dan ibu yang menjadi orang tua asuh anak stunting untuk berperan aktif ikut menurunkan angka stunting anak asuhnya,” kata Sutinah.
Ia meminta para orang tua asuh kembali aktif dan tidak hanya menunggu laporan dari tenaga lapangan.
“Bupati menghimbau kepada para orang tua asuh untuk lingkup Pemkab Mamuju agar kembali aktif dan turun ke lapangan. Kita harus lebih semangat lagi ke lokus kegiatan Taki Asuh Stunting sehingga angka stunting di Kabupaten Mamuju dapat menurun,” tegasnya.
Sutinah menilai penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan bergizi. Kondisi anak harus dipantau secara berkelanjutan dan intervensi dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.
Karena itu, tenaga lapangan keluarga berencana serta kader di tingkat desa dan kelurahan juga diminta memperkuat pendampingan terhadap keluarga sasaran.
Saat ini, program Taki Asuh Stunting masih diperuntukkan bagi lingkup Pemerintah Kabupaten Mamuju. Sutinah kemudian mengajak lembaga vertikal, BKKBN Provinsi Sulawesi Barat dan DPRD Kabupaten Mamuju ikut mengambil peran sebagai orang tua asuh.
“Kolaborasi semua stakeholders diharapkan dapat menurunkan angka anak stunting di Kabupaten Mamuju, yang saat ini baru sekitar 1.000 anak yang diintervensi,” ujarnya.
Rendahnya cakupan pengukuran juga menjadi perhatian dalam upaya memastikan data dan kondisi anak dapat dipantau secara akurat.
Dari 22.652 sasaran balita, baru 12.757 anak atau 56,32 persen yang telah ditimbang pada pengukuran Agustus 2026. Dari anak yang telah ditimbang tersebut, sebanyak 3.833 balita tercatat stunting atau 30,05 persen.
Pemerintah Kabupaten Mamuju juga mendorong program Grebek Stunting untuk memperluas jangkauan pemantauan. Melalui program ini, petugas mendatangi langsung keluarga yang memiliki balita dan mendorong orang tua membawa anaknya ke Posyandu setiap bulan.
Langkah tersebut dinilai penting karena penimbangan rutin di Posyandu menjadi pintu awal untuk mengetahui kondisi pertumbuhan anak.
Sutinah menyebut realisasi kunjungan ke Posyandu di Mamuju saat ini baru sekitar 50 persen. Karena itu, pendekatan langsung ke rumah warga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat.
Sementara itu, Wakil Bupati Mamuju yang juga Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) Kabupaten Mamuju, Yuki Permana, mengatakan prevalensi stunting di Mamuju masih cukup tinggi sehingga daerah ini masih menjadi salah satu penyumbang angka stunting di Sulawesi Barat.
“Karenanya melalui forum ini, saya mengharapkan berbagai langkah yang telah kita laksanakan dapat lebih dimaksimalkan, termasuk pada semua tahapan aksi konvergensi,” ujarnya.
Yuki meminta seluruh lintas sektor lebih serius menjalankan peran masing-masing agar penanganan stunting berjalan terorganisir dan saling mendukung.
Ia juga meminta seluruh pihak segera memasukkan data yang diperlukan untuk penyusunan laporan TPPS semester I.
Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut turut dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Mamuju melalui DPPKB Kabupaten Mamuju untuk program Bangga Kencana dan Taki Asuh Stunting. (*)





