Jalan Poros Tenggelang–Sumarrang Polman Dikeluhkan, 21 Tahun Tanpa Perhatian

oleh
oleh

Campalagian, Mesakada.com – Selama sekitar 21 tahun, kondisi jalan poros yang menghubungkan Tenggelang dengan Sumarrang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), masih menjadi keluhan warga. Setiap momentum politik, persoalan jalan tersebut kembali mencuat, namun masyarakat mengaku masih menunggu pembangunan yang benar-benar terealisasi.

Keluhan itu kembali disampaikan warga pada Rabu (23/9/2026). Kondisi jalan dinilai memprihatinkan karena menjadi salah satu akses masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk menuju lahan pertanian dan perkebunan.

Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kenyamanan berkendara. Kondisi jalan yang belum dibangun sebagaimana harapan masyarakat dinilai turut memengaruhi mobilitas dan aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada akses tersebut.

Salah seorang warga Tenggelang, Sudirman, yang mengaku lahir dan dibesarkan di Sumarrang, mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan yang hingga kini belum mendapat penanganan sebagaimana diharapkan masyarakat.

Menurutnya, jalan poros Tenggelang–Sumarrang semestinya menjadi salah satu prioritas pembangunan karena digunakan masyarakat untuk menunjang berbagai aktivitas, terutama sektor pertanian dan perkebunan.

“Jalan ini seharusnya menjadi prioritas pemerintah karena menjadi akses utama warga dalam menjalankan aktivitas, terutama masyarakat yang bekerja di sektor pertanian dan perkebunan,” ujar Sudirman.

Ia juga menyoroti janji pembangunan yang menurutnya kerap kembali muncul setiap memasuki momentum politik. Menurut Sudirman, persoalan jalan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai materi kampanye atau janji politik, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk pembangunan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Ironisnya, setiap momentum politik, persoalan jalan ini kembali menjadi janji. Tetapi masyarakat masih menunggu realisasi pembangunan yang nyata,” katanya.

Sudirman berharap pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan tidak kembali mengabaikan kondisi jalan tersebut. Menurutnya, pembangunan akses Tenggelang–Sumarrang akan berpengaruh terhadap mobilitas warga sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia menilai pembangunan infrastruktur semestinya ditempatkan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan, bukan hanya menjadi isu yang kembali muncul ketika momentum politik berlangsung.

“Kami berharap pemerintah benar-benar melihat kondisi masyarakat di lapangan. Jalan ini merupakan kebutuhan warga setiap hari, bukan hanya kebutuhan ketika memasuki momentum politik,” tutupnya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.