Mamuju, Mesakada.com – Desa Karampuang masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan pasokan listrik dan air bersih. Listrik di pulau tersebut belum menyala selama 24 jam, sementara pasokan air terkadang harus menunggu hingga 15 hari.
Kepala Desa Karampuang, Hasdia membenarkan hal tersebut. Menurut dia, kebutuhan listrik masyarakat saat ini masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersebar di empat titik.
“Kalau untuk listrik memang belum memadai karena belum 24 jam, apalagi kami terkendala ketika cuaca tidak bagus, listrik itu sering mati,” kata Hasdia, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang masih dirasakan masyarakat Karampuang. Ketergantungan pada PLTS membuat pasokan listrik rentan terganggu ketika kondisi cuaca tidak mendukung.
Karena itu, pemerintah desa berharap Pemkab Mamuju dan Pemprov Sulbar dapat membantu meningkatkan akses listrik di Pulau Karampuang agar masyarakat tidak terus bergantung pada sistem PLTS yang saat ini tersedia.
“Ya syukur alhamdulillah juga kalau pemerintah kabupaten bisa untuk masuk listrik di Karampuang,” ujarnya.
Ia menyebut, dari sejumlah wilayah di Karampuang, kondisi pasokan listrik paling memprihatinkan saat ini dirasakan di Karampuang 1 dan Karaya.
“Yang paling drop itu sekarang kan termasuk Karampuang 1. Kalau untuk di sini, Bajak dengan Ujung Bulo masih agak mending. Karampuang 1 itu sudah agak drop sekali sama Karaya,” jelasnya.
Selain listrik, persoalan air juga menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Karampuang.
Hasdia menyebut ketersediaan air tidak selalu tersedia setiap hari. Dalam kondisi tertentu, masyarakat bahkan harus menunggu hingga satu minggu hingga 15 hari untuk mendapatkan pasokan air.
“Kalau air kami di sini juga masih terkadang 15 hari, terkadang satu minggu. Jadi kita butuh penampungan di sini,” katanya.
Menurutnya, pembangunan atau penyediaan tempat penampungan air menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air, khususnya ketika pasokan mengalami keterlambatan.
Ia berharap pembangunan infrastruktur dasar di Karampuang tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pelayanan publik, tetapi juga menyentuh kebutuhan listrik dan air yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. (*)







