Mamasa, Mesakada.com — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mandar bekerja sama dengan media Parboaboa.com menggelar lokakarya penulisan feature dan liputan mendalam di Kabupaten Mamasa, pada 12–14 Oktober 2026. Kegiatan selama tiga hari ini bertujuan memperkuat kemampuan jurnalis menggali informasi, mengembangkan ide, dan menyajikan persoalan masyarakat secara kritis dengan tetap mengedepankan akurasi dan etika jurnalistik.
Lokakarya tersebut menghadirkan Hasudungan Sirait, penguji Uji Kompetensi Jurnalis AJI Indonesia sekaligus Pemimpin Redaksi Parboaboa.com, sebagai mentor.
Ketua AJI Mandar, Frendy mengatakan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong jurnalis menghasilkan karya yang tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menguji persoalan, menghadirkan beragam perspektif, dan mengungkap dimensi kemanusiaan.
“Tantangan jurnalis bukan hanya menemukan peristiwa yang layak diberitakan, tetapi juga mengajukan pertanyaan yang tepat dan menelusuri fakta yang kerap tersembunyi di baliknya,” ujar Frendy.
Menurut dia, penguatan keterampilan reportase dan penulisan diharapkan membuka ruang bagi cerita-cerita yang selama ini luput dari perhatian publik.
Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) AJI Mandar, Muh. Ilham, yang mendampingi peserta selama lokakarya, menekankan bahwa liputan mendalam tidak cukup dilakukan dengan mengumpulkan pernyataan narasumber. Jurnalis perlu memeriksa data, menyusun kronologi, menguji keterangan, dan menghubungkan berbagai fakta untuk memperoleh gambaran persoalan secara lebih utuh.
“Proses tersebut juga membutuhkan keberanian mempertanyakan informasi yang belum terverifikasi dan mencari suara yang kerap tidak mendapat ruang,” kata Ilham.
Selama lokakarya, peserta mempelajari cara mengembangkan gagasan menjadi cerita jurnalistik, mengumpulkan data dan kesaksian, serta menentukan sudut pandang yang mampu menjelaskan persoalan secara tajam.
Peserta juga berlatih menyusun perencanaan liputan mendalam, mulai dari menentukan ide dan sudut pandang, mengidentifikasi kebutuhan data, memilih sumber informasi, hingga merancang tahapan peliputan. Praktik tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan liputan tidak berhenti pada permukaan persoalan.
Kualitas tulisan jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bercerita, tetapi juga oleh ketajaman pertanyaan, kecukupan bukti, dan ketepatan pemilihan sumber. Tanpa perencanaan yang matang, liputan berisiko kehilangan konteks dan gagal mengungkap akar persoalan.
Selain materi reportase dan penulisan, peserta juga mendapatkan materi fotografi jurnalistik untuk mendukung penyajian feature dan liputan mendalam.
Mentor lokakarya, Hasudungan Sirait, menjelaskan bahwa berita langsung atau straight news dan feature memiliki karakteristik berbeda. Perbedaan tersebut juga terlihat dalam pendekatan yang digunakan untuk menghasilkan liputan mendalam.
“Berita langsung atau straight news umumnya menempatkan kecepatan dan informasi utama sebagai prioritas. Feature menawarkan ruang yang lebih luas untuk membangun cerita melalui detail, suasana, pengalaman manusia, dan konteks. Adapun in-depth reporting menekankan kedalaman investigasi dan pengujian fakta untuk menjelaskan latar belakang, hubungan antarfakta, serta dampak suatu persoalan,” ujar Hasudungan.
Melalui lokakarya ini, AJI Mandar mendorong jurnalis terus mengembangkan kemampuan reportase dan penulisan agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga membantu publik memahami persoalan secara lebih utuh. (*)






