Nur Siddiq As’Ad
Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unika Mamuju
Lanskap politik nasional kian bergeser cepat. Menjelang momentum politik ke depan, kelompok pemilih pemula yang didominasi generasi Z akhir dan awal generasi Alpha kembali menjadi “gadis jelita” yang diperebutkan.
Arus politik makin riuh oleh algoritma media sosial yang banjir gimmick. Namun, bagi anak muda di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, tantangan politik itu tidak sedang terjadi di ruang hampa. Ada realitas ekonomi bumi Manakarra yang hari ini sedang menuntut pembuktian nyata.
Di tengah situasi ini, tantangan bagi pemilih pemula di Mamuju berlipat ganda, mereka harus membelah kabut polusi informasi di media sosial, sekaligus jeli melihat pemimpin seperti apa yang mampu membawa kapal Mamuju ini berlayar lebih tangguh.
Antara Digital dan Realitas Kampung Halaman!
Tantangan terbesar pemilih pemula di Mamuju saat ini adalah ancaman komodifikasi suara, dengan durasi menatap layar yang lama, anak muda kerap disuguhi visualisasi politik yang kasual, joget viral, istilah-istilah gaul, hingga pencitraan kecerdasan buatan (AI).
Ada bahaya laten ketika preferensi politik anak muda hanya dibangun di atas fondasi “suka karena estetik” atau “memilih karena viral.”
Padahal, ketika layar ponsel dimatikan, realitas di luar kamar menanti. Anak-anak muda yang baru lulus sekolah atau kuliah di Mamuju dihadapkan pada sempitnya lapangan kerja formal, tantangan sektor pertanian andalan yang butuh sentuhan teknologi, hingga tuntutan kemandirian ekonomi kampung.
Jika pemilih pemula gagal melompat dari sekadar penonton pasif menjadi pemikir kritis, hak suara mereka terancam hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan normatif tanpa dampak pada nasib kolektif mereka sendiri.
Mengapa Pemimpin Muda dan Bagaimana Memilihnya?
Aspirasi mendorong lahirnya pemimpin berusia muda kini kian menguat. Pemimpin muda dinilai memiliki keunggulan dalam adaptabilitas teknologi, energi eksekusi yang tinggi, serta kedekatan emosional dengan generasi baru. Namun, “muda” saja tidak cukup jika hanya berbekal usia tanpa visi yang membumi.
Bagi pemilih pemula di Mamuju sebaiknya melakukan langkah taktis dan kompas berpikir yang harus dilakukan agar tidak salah memilih pemimpin muda di tengah dinamika ekonomi saat ini.
1. Pemilih pemula harus berani menuntut isi kepala para calon pemimpin muda terkait tata kelola ekonomi lokal.
Jangan lagi terbuai dengan jargon normatif “menyediakan lapangan kerja.” Anak muda harus mengejar pertanyaan yang lebih substansial, Yaitu :
Bagaimana strategi paslon melakukan hilirisasi hasil tani dan laut Mamuju?
Apa konsep mereka untuk membangun ekosistem kreatif dan digital yang mandiri di desa-desa?
Pemimpin muda yang layak dipilih adalah mereka yang paham cara menggerakkan ekonomi berbasis potensi daerah, bukan yang sekadar menunggu instruksi pusat.
2. Harus dibarengi dengan rekam jejak (track record). Pemilih pemula perlu aktif berselancar memeriksa masa lalu sang calon.
Apakah figur muda tersebut pernah terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, mendampingi komunitas lokal atau menginisiasi gerakan sosial ekonomi di Mamuju jauh sebelum musim pemilu tiba?
Pemimpin yang lahir dari rahim proses sosial dan kolektif akan jauh lebih peka terhadap jeritan ekonomi warganya dibanding pemimpin instan hasil polesan agensi komunikasi publik digital.
3. Dinamika koalisi politik nasional yang cair sering kali memicu sinisme, menganggap bahwa semua politisi sama saja.
Langkah konkret yang harus diambil pemilih pemula di Mamuju adalah menolak abai, mereka harus memanfaatkan ruang-ruang komunitas, warung kopi, dan kolektif kreatif lokal sebagai episentrum diskusi politik yang sehat.
Membicarakan politik bukan lagi soal fanatisme buta pada figur, melainkan forum kritis untuk membedah visi, misi, dan kontrak politik para kandidat terhadap kelestarian budaya serta kedaulatan ekonomi daerah.
Menuju Pemilih yang Berdaulat!
Ekonomi Mamuju yang inklusif ke depan membutuhkan nakhoda yang tidak sekadar populer di linimasa TikTok, Facebook atau Instagram, melainkan mereka yang mau berkeringat turun ke kampung-kampung, memahami rantai pasok kelapa sawit, kakao, perikanan, serta nasib pelaku UMKM lokal.
Saat ini, bola berada di tangan para pemilih pemula. Menjadi pemilih pemula di Mamuju di era transisi politik ini berarti memegang tanggung jawab besar.
Pilihannya jelas, apakah hanya membiarkan dirinya menjadi objek jualan politik yang dibeli lewat gimmick murah atau berdiri tegak sebagai subjek perubahan yang berdaulat demi masa depan ruang hidup bernama Bumi Manakarra.







