Jakarta, Mesakada.com – Produk unggulan Kabupaten Mamuju, Sulbar, mendapat perhatian pengunjung dalam ajang APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kawasan BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (27/8/2026).
Rombongan Kabupaten Mamuju dipimpin Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi bersama sejumlah pimpinan perangkat daerah, Ketua TP PKK Kabupaten Mamuju serta perwakilan pelaku UMKM.
Pada hari pertama pelaksanaan expo, sejumlah produk UMKM Mamuju dilaporkan diborong pengunjung. Salah satu yang paling banyak diminati adalah produk berbahan kain Sekomandi yang diolah menjadi tas dan syal.
Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi mengatakan, APKASI Otonomi Expo menjadi momentum untuk memperkenalkan produk unggulan daerah kepada pasar yang lebih luas.
Menurutnya, kegiatan tersebut membuat konsumen dapat mengenal dan mendapatkan produk khas Mamuju tanpa harus datang langsung ke daerah asalnya.
“Mudah-mudahan melalui APKASI Otonomi Expo menjadi peluang bagi para investor yang ingin berinvestasi di Kabupaten Mamuju dan daerah-daerah lain,” kata Sutinah.
Ia menyebut, antusiasme pengunjung terhadap produk UMKM Mamuju pada hari pertama menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha lokal.
Selain produk Sekomandi, stand Mamuju juga menampilkan berbagai produk makanan olahan berupa keripik dan kue yang merupakan hasil produksi UMKM binaan TP PKK Kabupaten Mamuju.
Tidak hanya memajang produk, stand Mamuju turut menampilkan proses penenunan kain Sekomandi secara langsung. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk melihat proses pembuatan salah satu produk khas daerah tersebut.
Sutinah berharap kegiatan APKASI Otonomi Expo dapat terus berkembang dan tidak sekadar menjadi ajang pameran produk daerah, tetapi juga membuka peluang kerja sama dan investasi.
Sebelumnya, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya saat membuka AOE 2026 menekankan pentingnya kepala daerah mengubah potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi melalui kolaborasi dan sinergi.
Bima mengatakan, expo daerah seharusnya tidak berhenti pada banyaknya pengunjung maupun penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi harus mampu menghasilkan investasi yang benar-benar terealisasi.
“Pameran ini harusnya bukan hanya sampai dengan MoU saja, tetapi investasi harus bernilai, menjadi nilai investasi yang cair dan terealisir,” tegas Bima.
Dalam kegiatan tersebut, Bima juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memperhatikan pelayanan dasar dan infrastruktur, ketahanan pangan dan energi, transformasi ekonomi, serta penyelesaian persoalan stunting, kemiskinan dan pengangguran.
AOE 2026 dihadiri perwakilan Kementerian Desa, Wakil Menteri Perdagangan, para duta besar negara sahabat, gubernur, serta pemerintah kabupaten dari berbagai daerah di Indonesia. (*)






