Mamuju, Mesakada.com — Di sebuah rumah di Desa Keang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, seorang pemuda bernama Satria menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.
Satria (28) merupakan pasien dengan indikasi gangguan jiwa. Sejak 2022, keluarganya memutuskan mengurungnya di sebuah kandang atau pasung (toban), bukan karena tidak menyayanginya, melainkan karena keluarga khawatir terhadap keselamatannya.
Sebelum keputusan itu diambil, Satria beberapa kali pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarga. Bahkan, ia pernah dinyatakan hilang selama berhari-hari hingga akhirnya ditemukan seorang diri di dalam hutan.
Perwakilan keluarga, Alfian Linggi mengaku, kondisi tersebut membuat keluarga berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka ingin Satria mendapatkan pengobatan dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun di sisi lain, keterbatasan ekonomi membuat keluarga kesulitan membawanya mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
“Biaya perjalanan, kebutuhan operasional, hingga akomodasi menjadi kendala yang selama ini membuat keinginan keluarga untuk membawa Satria berobat belum dapat diwujudkan,” kata Alfian, Senin (1-/8/2026).
Namun, harapan itu perlahan kembali tumbuh setelah adanya komunikasi dan edukasi yang diberikan kepada keluarga mengenai pentingnya penanganan medis bagi kondisi Satria.
Kini, keluarga telah berencana membawa Satria ke RSUD Sulbar untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut dari dokter spesialis psikiatri, dr. Otto Parandangi.
Keputusan tersebut menjadi langkah penting bagi keluarga yang selama bertahun-tahun hanya bisa berharap agar Satria mendapatkan pertolongan. Mereka ingin anak yang mereka cintai itu memiliki kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Kisah Satria juga menjadi gambaran bahwa persoalan kesehatan jiwa tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan. Keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan.
Kini, keluarga hanya ingin satu hal. Mereka ingin melihat Satria kembali memiliki kehidupan yang lebih layak, mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, serta perlahan bisa menjalani hari-harinya tanpa harus hidup dalam kurungan. (*)
Semoga langkah keluarga membawa Satria mendapatkan pengobatan menjadi awal dari perjalanan panjang menuju pemulihan. Ada harapan yang masih dijaga keluarga, bahwa suatu hari nanti Satria dapat kembali menjalani kehidupannya seperti dahulu. (*)







