Mamuju, Mesakada.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh mengejar keuntungan besar. Namun, menurutnya, jika pengelolaan SPPG justru tidak menghasilkan keuntungan sama sekali, hal itu juga merupakan kekeliruan.
“Bisnis atau usaha (MBG) ini kalau untung besar salah. Kalau tidak untung juga keliru,” kata Sudaryono saat meresmikan SPPG wilayah 3T, Jumat (2/10/2026).
Ia menegaskan, pengelola SPPG seharusnya menghitung usaha agar tidak mengalami kerugian, tetapi juga tidak menjadikan keuntungan besar sebagai tujuan utama.
“Harusnya hitungannya tidak rugi tapi tidak bisa untung besar-besaran. Karena ini adalah program pemerintah,” ujarnya.
Sudaryono juga menjelaskan perubahan skema insentif untuk dapur SPPG. Jika sebelumnya setiap SPPG mendapatkan insentif Rp6 juta secara sama rata, kini pembayaran insentif disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat.
“Apa saja itu dapat insentifnya Rp6 juta per SPPG, itu sama rata tapi tidak adil. Jadi adil itu bukan berarti sama, adil itu berarti proporsional,” katanya.
Menurutnya, skema baru tersebut membuat besaran insentif lebih proporsional karena mempertimbangkan jumlah penerima manfaat yang dilayani setiap dapur.
“Sekarang ini insentif dapur dibayarkan berdasarkan jumlah penerimaan manfaatnya,” ujarnya.
Meski demikian, Sudaryono mengingatkan pengelola dapur tidak kemudian mengejar penambahan penerima manfaat hanya untuk mendapatkan insentif lebih besar. BGN tetap menentukan kapasitas setiap dapur berdasarkan kemampuan pelayanan.
Ia meminta pengelola SPPG tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan karena MBG merupakan program pemerintah yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
“Kita harus menyiapkan menu makanan yang baik, yang bagus, yang menunya bagus, disukai anak-anak, gizinya tinggi,” katanya.
Sudaryono menekankan keuntungan yang wajar tetap perlu diperhitungkan dalam pengelolaan SPPG, namun kualitas makanan dan manfaat program harus menjadi perhatian utama.
“Karena ini adalah program pemerintah, saya minta juga semacam amal jariah kita, keikhlasannya tidak boleh hanya semata-mata mengejar keuntungan,” pungkasnya. (*)





