Jenderal Itu Berpulang, Tinggalkan Keteladanan Pengabdian di Sulawesi Barat

oleh
Alm. Salim S Mengga.

“Innalillahi wa innalillahi rajiun, subuh waktu Jakarta berdering telepon beberapa kali kemudian tersambung, terdengar suara tangis Putri Wakil Gubernur, Mayor Jenderal (Pur) Salim Mengga, atas nama Mila. Saya kaget dan disampaikan Pak Wagub sudah tiada,” cerita Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Suhardi Duka (SDK), pagi tadi. 

Kabar duka menyelimuti Sulawesi Barat. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Salim S. Mengga, wafat pada Sabtu, 31 Januari 2026, di RS Siloam, Kota Makassar, sekitar pukul 07.00 WITA.

Kepergiannya membawa kesedihan mendalam, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi masyarakat Sulawesi Barat yang mengenalnya sebagai sosok prajurit, negarawan, dan pelayan publik yang berjalan dalam keheningan pengabdian.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah putri pertamanya di Jalan Taman Cilandak IV Nomor 26, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Rencananya, almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, sebuah penghormatan bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk negara.

Salim Sayyid Mengga lahir pada 24 Agustus 1951. Ia merupakan alumni AKABRI 1974 dari kecabangan Kavaleri, dengan karier militer yang panjang dan terentang lintas daerah. Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Mayor Jenderal TNI, dengan jabatan puncak sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura pada periode 2005–2006.

Sepanjang pengabdiannya di TNI Angkatan Darat, Salim dikenal sebagai perwira yang matang, baik di lapangan, staf, maupun komando. Ia pernah bertugas di Kodam XIV/Hasanuddin, Kodam IV/Diponegoro, hingga memimpin satuan strategis di tingkat pusat dan daerah.

Beragam pendidikan militer ia tempuh, mulai dari kursus kecabangan hingga Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Pangkat dan jabatan tidak pernah mengubah kesederhanaan sikapnya.

Bagi rekan dan anak buahnya, Salim adalah sosok yang tegas namun adil, tidak banyak bicara, tetapi konsisten dalam sikap. Kejujuran menjadi prinsip yang ia pegang teguh sejak awal pengabdian, sementara tanggung jawab dijalani tanpa kompromi.

Usai pensiun dari militer, ia memilih tidak berhenti mengabdi. Salim melangkah ke dunia politik dengan niat yang sama: melayani. Ia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2009–2014 dan 2014–2019 dari daerah pemilihan Sulawesi Barat dan bertugas di Komisi I. Dalam peran sebagai wakil rakyat, ia dikenal lugas, jujur, dan selalu menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Perjalanan politiknya di daerah tidak selalu mulus. Ia beberapa kali mengikuti kontestasi kepala daerah, mengalami kalah dan menang, hingga akhirnya dipercaya masyarakat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025–2030, mendampingi Gubernur Suhardi Duka. Saat dilantik pada 20 Februari 2025, ia tercatat sebagai wakil gubernur tertua se-Indonesia. Namun usia tak pernah mengurangi ketekunannya dalam bekerja, mendengar aspirasi, dan berhati-hati mengambil kebijakan demi kepentingan rakyat.

Di balik jabatan dan pangkat, Salim S. Mengga adalah putra seorang pejuang kemerdekaan, S. Mengga, yang tumbuh dalam tradisi keluarga pengabdi bangsa. Prinsip disiplin, kejujuran, loyalitas, dan kesetiaan pada amanah menjadi nilai yang ia rawat hingga akhir hayat.

“Saya gubernur dan seluruh rakyat Sulbar sangat kehilangan sosok teladan, pemimpin yang istikamah pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya. Selamat jalan Kakanda, Sahabat sekaligus orang yang kami tuakan kami doakan Allah SWT menempatkanmu di tempat yang mulia,” sahut SDK. 

Kepergian Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga menutup satu bab penting perjalanan Sulawesi Barat, tentang seorang prajurit yang tak pernah benar-benar pensiun dari pengabdian, dan seorang pemimpin yang memandang kekuasaan sebagai titipan, bukan tujuan. Negara kehilangan salah satu putra terbaiknya, Sulawesi Barat kehilangan seorang pengayom. (*)

Selamat jalan, Jenderal!

No More Posts Available.

No more pages to load.