Mamuju, Mesakada.com — IPB Training bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan menggelar pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik serta teknik pemetaan lokasi perkebunan kelapa sawit. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit.
Pelatihan tersebut berlangsung di Ballroom Matos Hotel Mamuju, Jumat (24/10/2026), dengan melibatkan petani asal Kabupaten Pasangkayu.
Tim Trainer IPB Training, Prof Hariyadi, mengatakan pelatihan tersebut terlaksana melalui kolaborasi antara IPB Training sebagai pelaksana kegiatan, BPDP sebagai penyedia pendanaan, serta Dinas Perkebunan yang berperan dalam menjangkau petani sebagai peserta.
“Pelatihan ini bisa terlaksana atas kerja sama antara IPB Training sebagai pelaksana kegiatan, BPDP sebagai penyedia dana, dan Dinas Perkebunan yang memiliki petani. Ini kolaborasi yang baik dan patut kita syukuri,” kata Hariyadi.
Dia menjelaskan, terdapat dua jenis pelatihan yang dilaksanakan. Sebanyak 57 peserta mengikuti pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik, sedangkan 30 peserta lainnya mengikuti pelatihan teknik pemetaan lokasi perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti kedua kegiatan tersebut mencapai 87 orang.
Menurut Hariyadi, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi juga diterapkan secara langsung di lapangan untuk mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang lebih baik.
Dia menekankan pentingnya pengembangan pupuk organik sebagai salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan pemupukan tanaman. Menurutnya, praktik penggunaan pupuk organik sebenarnya telah lama dikenal petani, tetapi mulai ditinggalkan karena kecenderungan mengutamakan hasil yang cepat dan praktis.
“Pupuk organik sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, kita mulai melupakannya karena ingin serba instan dan cepat. Padahal, jika semuanya dilaksanakan dengan baik, hasilnya bisa luar biasa,” katanya.
Hariyadi juga menyoroti persoalan pupuk kimia yang harganya relatif mahal dan ketersediaannya terbatas. Karena itu, pemanfaatan pupuk organik perlu kembali dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi biaya usaha perkebunan.
Dia berharap petani dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, baik dalam pembuatan dan penggunaan pupuk organik maupun pemetaan lokasi perkebunan kelapa sawit.
Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pengembangan pupuk organik juga penting agar petani semakin terdorong menerapkan praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Melalui pelatihan tersebut, peningkatan kapasitas petani diharapkan dapat mendukung produktivitas perkebunan kelapa sawit sekaligus memperkuat kemampuan petani dalam mengelola kebun secara lebih efektif. (*)





