Mamuju, Mesakada.com — Kondisi Taman Literasi Mamuju yang dipenuhi rumput liar, sampah berserakan, hingga pecahan kaca menuai sorotan dari DPRD Mamuju. Fasilitas publik yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Mamuju itu dinilai tidak terawat meski menjadi salah satu ruang pendukung aktivitas literasi masyarakat.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Mamuju, Sugianto, menilai kondisi tersebut tidak bisa sepenuhnya dibenarkan dengan alasan keterbatasan anggaran.
“Bisa sih soal anggaran jadi alasan, tapi itu hanya salah satu alasan terkecil,” kata Sugianto, Selasa (9/6).
Menurutnya, di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas, pemerintah tetap dapat melakukan langkah sederhana untuk menjaga kebersihan dan kerapian fasilitas publik melalui kerja bakti atau korvei.
“Dengan kondisi keterbatasan anggaran, mestinya yang dikedepankan sekarang adalah semangat gotong royong, melakukan korvei pada objek seperti ini,” ujarnya.
Ia mencontohkan kegiatan korvei selama ini tetap dilakukan di sejumlah ruang publik lain seperti kawasan Anjungan Pantai Manakarra dan Jalan Arteri Mamuju.
“Kan nyatanya bisaji korvei di tempat lain selama ini, seperti di Anjungan atau di Arteri. Masa di landscape tidak?” katanya.
Sugianto bahkan mengaku prihatin terhadap kondisi pengelolaan sejumlah fasilitas publik di Kabupaten Mamuju.
“Sebenarnya hampir habis kosa kata untuk mengomentari hal-hal seperti ini. Kelihatannya kinerja Pemda kita semakin hari semakin semrawut penataan dan pengelolaan kebersihan kota kita ini,” tegasnya.
Persoalan ini memperlihatkan kontras antara fungsi taman sebagai ruang literasi publik dengan kondisi fisiknya yang kurang terawat. Di satu sisi Dispusip mengaku terkendala pencairan anggaran operasional, sementara di sisi lain DPRD menilai kebersihan dan kelayakan fasilitas publik juga membutuhkan inisiatif serta semangat gotong royong, bukan semata bergantung pada anggaran. (*)







