Mamuju, Mesakada.com — PDAM Tirta Manakarra semakin tidak menunjukkan profesonalitasnya sebagai perusahaan daerah yang menyuplai air bersih kepada pelanggan.
Hal itu lantaran warga Mamuju masih harus berhadapan dengan krisis air bersih akibat macetnya distribusi air PDAM Tirta Manakarra. Kondisi itu diperparah tanpa penjelasan resmi dari manajemen.
Di Perumahan Masannang 4, Jalan Nelayan, air tak mengalir selama sembilan hari berturut-turut. Di saat kebutuhan meningkat untuk sahur, berbuka, hingga berwudu, warga justru dipaksa berkawan dengan krisis air.
Aktivitas rumah tangga lumpuh. Air, yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, berubah menjadi barang langka.
Salah seorang warga, Gazali, mengaku terpaksa menumpang ke masjid untuk sekadar mandi dan buang air.
“Kurang lebih sudah sembilan hari macet. Untuk kebutuhan mandi dan buang air, kadang harus ke masjid,” ujarnya, Senin (23/2/2025).
Situasi ini bukan sekadar gangguan teknis biasa. Ini menyangkut hak dasar masyarakat. Sebagian warga yang mampu harus merogoh kocek Rp 100 ribu per tandon untuk mendapat air bersih.
Ironisnya, satu tandon hanya cukup bertahan dua hari jika digunakan dengan sangat hemat. Bagi warga berpenghasilan pas-pasan, pilihan itu jelas memberatkan.
Keluhan serupa datang dari warga Graha Nusa. Salah seorang warga, Made, menyebut distribusi air bersih di wilayahnya sudah sering bermasalah, namun tiga hari terakhir menjadi yang terparah.
“Sangat parah, sebab tidak ada sama sekali air mengalir hingga ke rumah warga. Padahal air menjadi kebutuhan dasar, apalagi sekarang Ramadan,” katanya.
Yang lebih disesalkan, warga merasa tidak mendapatkan kejelasan. Tidak ada penjelasan resmi soal penyebab gangguan, tidak ada skema distribusi darurat, tidak ada mobil tangki yang rutin disiagakan.
“Kami tidak diberikan alasan kenapa pelayanan air bersih tidak berjalan. Kami juga tidak diberikan solusi atau kompensasi,” imbuh Made.
Di sisi lain, kewajiban membayar tagihan tetap berjalan. Pelanggan terancam denda jika terlambat, meski selama berhari-hari tak setetes pun air mengalir ke rumah mereka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar soal tanggung jawab pelayanan publik.
Hingga berita ini diterbitkan, Direktur PDAM Tirta Manakarra, Jauhariah Andi Syafruddin, belum memberikan keterangan resmi dengan alasan sedang mengikuti rapat.
Kepala Bagian Teknik juga belum dapat ditemui. Informasi yang beredar menyebutkan kerusakan pompa di Instalasi Pati’di 1 menjadi penyebab gangguan, namun belum ada pernyataan terbuka terkait skala kerusakan dan estimasi normalisasi.
Ramadan seharusnya menjadi momentum pelayanan terbaik bagi masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, warga dibiarkan menunggu tanpa kepastian. (*)





