Tidak berhenti di proses merakit, Agung juga mengunggah hasil karyanya ke media sosial. Sepeda-sepeda modifikasinya ia jadikan konten, mulai dari proses perakitan sampai video test ride.
Konten-konten itulah yang membuat karyanya mendapat perhatian lebih luas, bukan hanya dari Sulbar, tetapi juga dari luar daerah. Engagement pun berdatangan, dan namanya mulai dikenal di komunitas sepeda, khususnya di Sulbar.
Seiring meningkatnya minat, Agung menceritakan jika sudah banyak yang tertarik memesan sepeda buatannya. Tak sedikit datang dari luar Polman yang sengaja memesan model kalcer.
“Sudah ada yang laku, banyak juga yang tanya-tanya, jadi alhamudlillah. Sebenarnya tidak nyangka karena ini cuma hobi, ternyata banyak yang suka juga,” kata Agung, Minggu 30 November.
Keuletannya merakit limbah besi menjadi sepeda kalcer kini menjadi cerminan kreativitas yang tumbuh dari hal-hal sederhana yang kerap dianggap tak berharga.
“Dulu belum banyak yang peduli. Sekarang malah banyak yang suka,” tutur Agung.
Kini, sepeda kalcer menjadi salah satu simbol kreativitas anak muda di Sulbar, khususnya di Polman.
Bagi Agung, sepeda kalcer bukan sekadar alat transportasi atau olahraga. Ia menjadi ruang untuk berekspresi, berkumpul, dan saling menginspirasi.
“Yang penting senang dulu. Orang suka belakangan,” ujarnya sambil tertawa.
Agung berharap tren ini terus hidup, tidak hanya sebagai gaya, tetapi juga sebagai bukti bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kegigihan dan keberanian memulai sesuatu yang dianggap remeh.
Saat ini, kata dia, budaya bersepeda kembali tumbuh sebagai pilihan transportasi ramah lingkungan. Hal itu terbukti dengan banyaknya para pekerja yang kini menggunakan sepeda sebagai transportasi untuk beraktivitas.
Dengan begitu, Agung percaya kebiasaan ini bisa membantu mengurangi polusi udara, sekaligus mendorong gaya hidup yang lebih sehat. (*)





