Majene, Mesakada.com — SD Negeri 16 Tanisi, Dusun Tanisi Selatan, Desa Mekkatta Selatan, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, butuh perhatian dari Pemkab Majene, usai bertahun-tahun rusak parah usai gempa bumi 6,2 magnitude 2021, silam.
Kepala SD Negeri 16 Tanisi, Nursaid berharap, Pemkab Majene memberikan perhatian terhadap sekolah tersebut. Sebab, selain perbaikan bangunan, sekolah juga sangat kekurangan mobiler seperti meja, kursi, dan fasilitas pendukung lainnya.
“Kalau memang ada anggaran semuanya (diperbaiki), kemudian mobilernya juga sangat kurang,” kata Nursaid, kepada Mesakada.com, Senin (17/11/2025).
Sebelumnya, ia menceritakan Pemkab Majene sebenarnya sudah menganggarkan dana sebesar Rp 565 juta untuk perbaikan empat ruang kelas.
Namun menjelang pelaksanaan, anggaran tersebut dibatalkan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Majene, dengan alasan adanya masalah antara dua pemborong yang tidak menemukan kesepakatan.
“Sudah pernah ada anggarannya dari kabupaten, tetapi setelah saat-saat mendekati pekerjaan, dibatalkan oleh dinas. Alasannya bermasalah karena 2 pemborong tidak ada yag mau mengalah sehingga batal,” kata Nursaid,
Hal itu membuat 164 murid terpaksa belajar di bangunan yang rawan roboh. Saat ini sekolah tersebut memiliki delapan ruang kelas, ditambah ruang perpustakaan, kantor, toilet, dan ruang guru.
“Pengurusannya selama saya di SD Negeri 16 Tanisi sudah banyak cara saya lakukan. Ada yang bilang bikinkan proposal, saya buat lagi. Dari dinas kabupaten suruh masukkan berkas, saya masukkan lagi bersama operator. Tapi semuanya itu sia-sia,” ungkap Nursaid.
Rusaknya bangunan sekolah tersebut pun membuat proses belajar mengajar tidak maksimal. Pihak sekolah harus menyesuaikan keadaan.
“Kalau angin kencang atau hujan turun, siswa terpaksa kami suruh pulang meski belum waktunya. Orang tua langsung datang menjemput karena bangunan tidak aman,” katanya. (*)





