Mamuju, Mesakada.com — Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Taki Asuh Stunting) yang dijalankan Pemkab Mamuju mulai menunjukkan hasil. Dari 15 anak yang menjadi sasaran asuhan Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi, satu anak dinyatakan telah keluar dari status stunting setelah mendapat intervensi dan pemantauan rutin.
Hasil tersebut diketahui saat Sutinah kembali melakukan pemantauan langsung terhadap anak asuhnya di Kelurahan Bebanga, Selasa (6/10/2026). Kunjungan itu merupakan bagian dari pemantauan rutin setiap bulan untuk melihat perkembangan pertumbuhan dan kesehatan anak yang mendapat intervensi.
“Alhamdulillah, ada tadi anak asuh saya yang sudah keluar dari stunting. Tingginya sudah normal dan beratnya pun sudah normal,” kata Sutinah.
Menurut Sutinah, perubahan kondisi anak tersebut tidak terlepas dari intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan. Anak yang telah keluar dari status stunting nantinya akan digantikan dengan sasaran baru agar jumlah anak asuh yang menjadi tanggung jawabnya tetap 15 orang.
“Bulan depan ditambah satu lagi, jadi tetap 15,” ujarnya.
Sutinah menjelaskan, intervensi dalam program Taki Asuh Stunting tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan. Pemantauan pertumbuhan dan kesehatan anak juga dilakukan untuk memastikan kebutuhan masing-masing anak dapat diketahui dan ditangani.
“Kita kasih telur, kita kasih susu. Alhamdulillah saya tanya ibunya, mereka suka susu, makan telur juga,” ungkapnya.
Selain asupan gizi, anak sasaran juga mendapat pendampingan kesehatan dari tenaga kesehatan Puskesmas. Jika anak mengalami sakit, tenaga kesehatan dapat memberikan penanganan, termasuk obat dan vitamin.
“Kalau sakit dikasi obat, juga diberi vitamin,” katanya.
Sutinah meminta tenaga kesehatan yang mendampingi program tersebut rutin turun ke lapangan. Menurutnya, pemantauan langsung diperlukan karena persoalan yang dihadapi setiap anak dan keluarga berbeda.
Dalam kunjungan tersebut, misalnya, ditemukan anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Kondisi itu terjadi karena orang tua masih khawatir membawa anak ke Posyandu.
Sutinah menilai persoalan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari sisi administrasi, tetapi membutuhkan pendampingan dan komunikasi langsung dengan keluarga.
“Makanya saya minta teman-teman Puskesmas yang mendampingi kami, turun ke lapangan,” ujarnya.
Selain persoalan kesehatan, kondisi sosial ekonomi keluarga juga menjadi perhatian dalam pemantauan anak asuh. Sutinah menemukan adanya keluarga yang sebelumnya tercatat dalam desil 1 hingga 5, tetapi kemudian berubah menjadi desil 7 sehingga tidak lagi menerima bantuan.
Menurutnya, perubahan data tersebut perlu dikonfirmasi dengan kondisi faktual keluarga di lapangan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, kondisi tersebut dapat dilaporkan kepada Dinas Sosial untuk ditindaklanjuti.
Temuan di lapangan tersebut, kata Sutinah, menunjukkan pentingnya keterlibatan langsung orang tua asuh. Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui laporan, tetapi dengan melihat kondisi anak dan keluarganya secara langsung.
“Kita berharap mudah-mudahan tiap bulan ada anak-anak yang keluar dari status stunting,” tuturnya.
Penguatan program Taki Asuh Stunting juga akan diperluas dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Sutinah mengatakan telah meminta Gubernur Sulawesi Barat turut mengambil bagian dalam intervensi penanganan stunting di Mamuju.
Menurut Sutinah, Ibu Gubernur Sulawesi Barat yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Barat akan menjadi orang tua asuh bagi 20 anak mulai bulan ini.
Sutinah menyambut keterlibatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas cakupan pendampingan. Semakin banyak pihak yang terlibat sebagai orang tua asuh, semakin luas pula anak sasaran yang dapat mendapatkan intervensi secara langsung.
“Kalau banyak yang mengintervensi, Insya Allah kita optimis,” ujarnya.
Sementara itu, Rianti, salah satu warga Desa Tadui, mengatakan anaknya telah dua kali mendapatkan intervensi melalui program Taki Asuh Stunting. Ia berharap program tersebut terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan.
“Harapannya semoga program ini terus berlanjut, membantu masyarakat yang membutuhkan,” kata Rianti.
Selain bantuan untuk kebutuhan anak, Rianti juga berharap keluarganya mendapat bantuan mesin kapal agar tidak lagi harus meminjam mesin. Bantuan tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya. (*)






