Mamuju, Mesakada.com — Pengembangan logam tanah jarang (LTJ) di Mamuju, menyimpan potensi ekonomi besar. Namun, manfaat investasi tersebut bagi masyarakat lokal masih menjadi pertanyaan, terutama terkait kesempatan kerja, keterlibatan pelaku usaha setempat, dan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha Mineral Bukan Logam dan Batuan (APMBLB) Sulbar, Arman Supriadi mengingatkan, pengembangan LTJ di Mamuju harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berbasis data ilmiah.
Menurut Arman, potensi ekonomi LTJ memang dapat mendukung perkembangan industri teknologi modern. Namun, besarnya potensi tersebut perlu diikuti pengelolaan yang memastikan manfaatnya tidak hanya dinikmati pihak tertentu.
“Potensi ekonomi LTJ memang besar, tetapi pengembangannya harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berbasis data ilmiah,” kata Arman, Senin (19/10/2026).
Salah satu persoalan yang perlu dijelaskan sejak awal adalah peluang kerja bagi masyarakat lokal. Pemerintah dan perusahaan perlu memberikan kejelasan mengenai kebutuhan tenaga kerja, kualifikasi yang diperlukan, serta kesempatan bagi warga Mamuju untuk meningkatkan keterampilan.
Selain itu, pelaku usaha lokal perlu mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam rantai pasok kegiatan industri. Peluang tersebut dapat mencakup penyediaan jasa transportasi, kebutuhan operasional, konstruksi, dan berbagai layanan pendukung lainnya sesuai kebutuhan proyek.
Tanpa komitmen yang terukur, janji peningkatan kesejahteraan berisiko hanya menjadi narasi investasi. Masyarakat lokal justru berpotensi tidak memperoleh manfaat yang sebanding dengan aktivitas pengelolaan sumber daya alam di wilayahnya.
Karena itu, pengembangan LTJ di Mamuju perlu dinilai bukan hanya dari besarnya potensi mineral dan investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak, kesempatan usaha, serta manfaat ekonomi yang nyata. (*)







