Indeks Literasi Sulbar Rendah, Perpustakaan Sekolah Mesti Dibenah

oleh
Bedah Buku SDK: Mendayung dari Hulu, di Aula Perpustakaan Sulbar.

Mamuju, Mesakada.com — Indeks literasi di Sulawesi Barat masih tertinggal dari rata-rata nasional. Berdasarkan data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPKD) Sulbar, nilai indeks literasi provinsi ini pada tahun 2024 hanya mencapai 63,65, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 73,52.

Kondisi ini mendorong Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK), mengambil langkah serius. Melalui Surat Edaran Gubernur, SDK mewajibkan seluruh siswa SMA dan SMK membaca minimal 20 buku sebagai syarat kelulusan.

Kepala DPKD Sulbar, Khaeruddin Anas, mengatakan bahwa rendahnya indeks literasi merupakan tantangan besar yang harus segera diatasi.

“Kita terus terang masih sangat tertinggal dalam hal literasi. Anak-anak wajib membaca buku sesuai SE Gubernur karena ini adalah salah satu cara mengejar ketertinggalan itu,” ujar Khaeruddin, Rabu 17 Juli.

Ia menilai, rendahnya literasi bukan hanya disebabkan oleh minat baca yang kurang, tapi juga terbatasnya akses terhadap bahan bacaan umum yang berkualitas, terutama di sekolah.

Sebagai bagian dari solusi, DPKD mendorong percepatan akreditasi perpustakaan sekolah. Hingga kini, tercatat 380 perpustakaan sekolah di Sulbar telah terakreditasi, dan berpeluang mendapat dukungan buku dari Perpusnas.

Namun Khaeruddin menyebut, sebagian besar perpustakaan sekolah masih minim koleksi bacaan umum dan hanya memiliki buku pelajaran (buku paket).

“Buku bacaan yang bermutu itu bisa merangsang daya pikir, kreativitas, dan inovasi siswa. Tapi yang terjadi, banyak sekolah tidak memilikinya. Ini menyulitkan pengembangan wawasan anak-anak,” jelasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.