Mamuju, Mesakada.com — Jumlah penduduk miskin di Sulbar pada September 2025 mencapai 149,88 ribu jiwa atau berkurang 2,43 ribu jiwa dari Maret 2025. Namun di balik penurunan tersebut, beras dan rokok masih menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan.
Beras sebagai makanan pokok menyerap porsi terbesar pengeluaran penduduk miskin. Setiap gejolak harga beras langsung mendorong naiknya beban hidup rumah tangga miskin dan rentan miskin.
Di saat yang sama, rokok menjadi pengeluaran besar yang justru tidak bersifat kebutuhan dasar, tetapi memberi kontribusi signifikan terhadap kemiskinan. Konsumsi rokok menggerus pendapatan rumah tangga, mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan pangan bergizi, kesehatan, dan pendidikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar, Suci Handayani mengatakan, penurunan kemiskinan tercatat terjadi di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
“Persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 8,35 persen pada Maret 2025 menjadi 7,68 persen pada September 2025. Di perdesaan, angka kemiskinan menurun dari 10,94 persen menjadi 10,84 persen,” kata Suci, dalam rilisnya.
Meski demikian, tingginya kontribusi beras dan rokok terhadap pengeluaran penduduk miskin menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan di Sulbar bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga tekanan harga pangan dan perilaku konsumsi.
Selain beras dan rokok, komoditas lain yang turut menyumbang kemiskinan adalah ikan, kue basah, dan telur ayam. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pengendalian harga beras dan pengurangan konsumsi rokok di rumah tangga miskin. (*)





