Polman, Mesakada.com — Tanaman padi yang seharusnya memasuki masa panen justru mati di atas sawah yang mengering. Sekitar 70 hektare lahan pertanian di Desa Barumbung, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, gagal panen setelah hampir tiga bulan tidak mendapat pasokan air yang cukup.
Di sejumlah lahan, tanaman padi terlihat layu hingga mengering. Tanah retak menjadi pemandangan di antara hamparan sawah yang sebelumnya diharapkan menghasilkan gabah bagi petani.
Kondisi tersebut tidak hanya dipicu kemarau panjang. Minimnya jaringan irigasi membuat petani di Barumbung masih bergantung pada sawah tadah hujan. Ketika hujan berhenti turun, pasokan air untuk tanaman ikut terputus.
Salah seorang petani, Aling, mengatakan persoalan air di wilayah tersebut bukan baru terjadi tahun ini. Menurutnya, keterbatasan pengairan telah dirasakan petani sejak lama.
“Sawah di sini memang tadah hujan, pengairan sangat tidak memadai. Kalaupun ada sedikit air mengalir di musim seperti ini, petani bahkan sampai berebut dan terkadang memicu cekcok karena sama-sama susah dapat air,” ujar Aling saat ditemui di lahannya, Minggu (27/9/2026).
Ia mengatakan tanaman padi mulai terdampak kekeringan sekitar satu bulan setelah masa tanam. Kondisi tersebut membuat tanaman tidak memperoleh air yang dibutuhkan hingga akhirnya mengering sebelum menghasilkan gabah.
“Usia padi ini sebenarnya sudah memasuki musim panen. Namun karena hampir tiga bulan tidak tersentuh air, hasilnya sama sekali tidak ada. Bisa dikatakan kering total,” katanya.
Gagal panen tersebut membuat modal yang telah dikeluarkan petani ikut terancam. Biaya pembibitan, pembelian pupuk hingga perawatan lahan tidak kembali karena tanaman yang ditanam tidak menghasilkan panen.
Sebagian petani yang masih memiliki tanaman yang bertahan hanya memperoleh hasil terbatas. Gabah yang dipanen tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan sehingga kerugian tetap harus ditanggung.
Sementara tanaman yang sudah mengering sebagian dibabat dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Langkah tersebut dilakukan karena tanaman dinilai tidak lagi memiliki hasil yang bisa dipanen.
Persoalan kekeringan dan keterbatasan pengairan disebut berulang setiap musim kemarau. Petani berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak hanya memberikan bantuan saat krisis terjadi, tetapi juga membangun sistem pengairan yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
Petani mengusulkan pembangunan jaringan irigasi, termasuk pengadaan sumur bor dan mesin pompa air di sejumlah titik yang rawan kekeringan.
Bagi petani Barumbung, persoalan air menjadi kebutuhan mendasar untuk mempertahankan lahan pertanian. Tanpa dukungan infrastruktur pengairan, mereka tetap berada dalam kondisi rentan setiap kali musim kemarau kembali datang. (ifn/ajs)







