Mamuju, Mesakada.com – Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Sulbar 2024, dimulai, Jumat (11/10/2024).
Acara ini mengusung tema besar memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang demokratis, adil, dan sejahtera bagi seluruh ciptaan. Hal itu sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Tema ini menggambarkan komitmen gereja dalam menjaga persatuan dan mengedepankan keadilan bagi semua.
Pembimas Kristen, Ayub, yang hadir mewakili Kepala Kanwil Kemenag Sulbar, menyampaikan pandangannya akan pentingnya peran gereja di era modern. Menurutnya, gereja tidak lagi hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai agen perubahan sosial.
Peran ini sangat penting terutama dalam menghadapi isu global seperti pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Ayub menjelaskan dampak serius dari pemanasan global, antara lain mencairnya es di kutub yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut, perubahan iklim ekstrem seperti musim kemarau panjang, gelombang panas, hingga banjir besar.
Dampak lainnya termasuk kebakaran hutan, penurunan hasil pertanian, dan kepunahan beberapa spesies hewan.
“Peran gereja sangat penting untuk menyuarakan isu ini kepada umat serta mendorong tindakan nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Ayub.
Dalam sidang ini, isu perdamaian dunia juga menjadi agenda utama. Ayub menyoroti pentingnya peran gereja dalam diplomasi keagamaan, terutama di saat diplomasi politik antarnegara tidak lagi efektif, seperti pada konflik Israel. Tokoh agama diharapkan mampu menawarkan pendekatan alternatif yang lebih damai.
Indeks Kerukunan Beragama
Di samping itu, Ayub mengapresiasi peningkatan indeks kerukunan umat beragama (KUB) di Indonesia. Data menunjukkan tren positif, dari angka 73,09 pada tahun 2022, naik menjadi 76,02 di tahun 2023, dan mencapai 76,47 pada tahun 2024.
“Peran tokoh agama sangat penting dalam menjaga harmoni ini, dan saya berharap peningkatan ini dapat terus berlanjut,” ujarnya.
Tak hanya isu lingkungan dan perdamaian, pendidikan juga menjadi perhatian dalam sidang ini. Ayub mengungkapkan keprihatinannya terkait 4 juta anak yang putus sekolah di Indonesia.
Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama mencari solusi agar anak-anak ini bisa kembali bersekolah, terutama dalam mempersiapkan Indonesia menuju bonus demografi pada 2045.
Ayub berharap sidang ini dapat menjadi wadah bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif untuk memperkuat peran gereja dalam membangun umat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara gereja dan masyarakat dalam menghadapi tantangan global dan lokal.
“Selamat dan sukses untuk Sidang Majelis Daerah Provinsi Sulawesi Barat,” ucap Ayub.
Sidang ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkokoh semangat kebangsaan dan kebersamaan, serta memperkuat kontribusi gereja dalam pembangunan sosial dan lingkungan di Sulbar. (js)






