Mamuju, Mesakada.com — Matahari pagi di Pantai Landi, Mamuju, memantulkan cahaya ke permukaan laut yang tenang. Di sana, di bawah langit yang jernih, komunitas Manakarra Snorkeling tengah bersiap dengan misi mereka—menurunkan 70 karang buatan ke dasar perairan.
Deru ombak kecil yang menyapu pasir membawa harapan baru bagi ekosistem laut yang telah lama terluka. Rahmat Tahir, Ketua Manakarra Snorkeling, berdiri di tepi pantai, suaranya tegas tetapi penuh semangat.
“Cukup banyak karang alami yang rusak di wilayah ini,” katanya, sembari mengarahkan pandangan ke arah laut.
“Dengan adanya karang buatan ini, kita berharap ikan-ikan dapat bersarang, sehingga ke depannya akan memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Karang-karang buatan itu terbuat dari beton, bentuknya sederhana namun penuh arti. Dengan hati-hati, anggota komunitas menurunkannya satu per satu ke laut, seakan meletakkan fondasi baru untuk kehidupan yang pernah memudar. Di atas perahu kecil, seorang anggota komunitas berbisik kepada rekannya.
“Ini bukan hanya tentang karang, ini tentang masa depan,” ujarnya.
Namun, Rahmat tahu, pekerjaan mereka tak akan berarti tanpa kesadaran kolektif. “Kegiatan ini akan sia-sia jika masyarakat masih membuang sampah ke laut,” ujarnya dengan nada yang mengingatkan.
“Kita semua harus berkontribusi dalam menjaga lingkungan agar tetap lestari,” paparnya.
Di balik setiap karang yang tenggelam, ada mimpi yang lebih besar—menjadikan Pantai Landi sebagai destinasi snorkeling unggulan di Mamuju.
Rahmat dan timnya tidak hanya ingin memulihkan ekosistem, tetapi juga membuka pintu untuk keindahan bawah laut yang dapat dinikmati siapa saja.
Angin pantai membawa aroma laut dan semangat baru. Mungkin suatu hari, para wisatawan akan datang ke sini, menyelam di antara karang-karang buatan itu, dan menyaksikan ikan-ikan yang menari bebas di rumah baru mereka.
Mungkin suatu hari, nama Pantai Landi akan dikenang sebagai tempat di mana harapan dan alam bertemu dalam harmoni. (*)





