Perjalanan Sunyi Seorang Yonni Arvilia

oleh

Yonni masih mengingat betul pesan-pesan yang selalu tertanam dari keluarganya. Kata-kata itu menjadi pegangan dalam setiap langkah hidupnya.

“Sayami orang paling sakit hati kalau ada orang apa-apai anakku,” ucap sang opa suatu waktu, kalimat yang hingga kini terus ia ingat.

Pesan serupa juga datang dari mamanya. “Kamu tidak usah kasih saya apa-apa. Cukup jaga kepercayaanku. Terserah kamu mau ke mana dan jadi apa, asal jangan pernah buat malu ka,” tutur Yonni menirukan ucap

Sementara itu, omanya selalu mendorong Yonni untuk bermimpi setinggi mungkin. “Kamu harus kejar cita-citamu setinggi-tingginya. Harus kuliah di luar, supaya kalau ada orang bertanya mana cucunya oma, saya bisa jawab: dia lagi kuliah di luar,” kata omanya, seperti yang selalu diingat Yonni.

Meski demikian, Yonni mengakui ada ruang kosong dalam hidupnya yang tidak bisa sepenuhnya terisi, yakni kehadiran seorang ayah.

Walaupun mamanya sudah menikah 4-5 tahun lalu, tetap ruang kosong dalam dirinya tetap ada. Kekosongan itu sudah lama ada, bahkan sejak dirinya lahir. Di sisi lain, ia sangat ingin merasakan kehadiran dan kasih sayang itu.

Meski begitu, Yonni sangat bersyukur karena kini dirinya punya seseorang yang bisa disebut bapak. Walaupun ia hadir belakangan, ia mau menerima dan berusaha menyesuaikan diri dengan keluarganya. Padahal sebelumnya ia belum pernah menikah, apalagi memiliki anak.

“Semoga mamaku bahagia dengan pilihannya dan dia juga pilihan yang tepat untuk mamaku. Amin,” harap Yonni.

Namun ia percaya hidup memang memiliki banyak warna, dan semuanya tergantung bagaimana seseorang menerima dan menjalani warna-warna tersebut.

Bagi Yonni, semua perjalanan ini adalah proses berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan ketakutan. Ia memilih untuk tetap berjalan, menjadi dirinya sendiri, dan terus mencintai hidup dengan segala warnanya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.