Perjalanan Sunyi Seorang Yonni Arvilia

oleh

Meski begitu, ia menyadari pola pikir anak tunggal yang selalu ingin dituruti harus diubah. Sebagai satu-satunya harapan orang tua, ia ingin tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.

Sejak kecil, Yonni tumbuh di lingkungan keluarga yang hangat dan penuh kasih. Meski berasal dari keluarga broken home, Yonni tidak pernah tumbuh dalam kekurangan cinta.

“Saya tidak tahu akan bagaimana kalau mereka tidak ada (mama, opa dan oma).  Walaupun ada space kosong karena orang tua yang tidak lengkap, tapi kasih sayang yang mereka beri tumpah ruah di saya,” sebut Yonni.

Rumah bagi Yonni hanya bukan tempat tinggal, tetapi ruang yang selalu memberi rasa diterima apa adanya. Di luar rumah, ia dikenal sebagai pribadi yang tegas, mandiri, dan kuat.

Namun ketika pulang, ia tetap menjadi anak kecil. Dimanja, disuapi, diantarkan air panas ke kamar, dan ia tidak pernah merasakan itu sebagai kelemahan. Justru dari sanalah ia belajar arti cinta yang tanpa syarat.

Kehangatan keluarga itulah yang membentuk kepribadian Yonni menjadi sosok yang penuh empati, peduli, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Ia meyakini bahwa semua sisi baik yang terlihat pada dirinya hari ini adalah hasil dari didikan dan cinta keluarganya.

“Kalau ada yang buruk dalam diri saya, itu murni kekurangan saya sebagai manusia, bukan karena orang tua saya gagal mendidik,” katanya.

Hubungan Yonni dengan keluarga terjalin sangat erat. Bahkan ketika ia terluka dan memilih diam, keluarganya sering kali langsung tahu. Mereka tidak menuntut penjelasan panjang, hanya hadir, menenangkan, dan menguatkan. Kalimat sederhana dari mama, opa, dan oma menjadi pegangan hidup yang terus ia ingat dan jaga.

No More Posts Available.

No more pages to load.