Bagi Yonni, Mamasa memiliki arti yang sangat dalam. Mamasa adalah rumah yang indah, namun juga penuh kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Di tanah inilah ia lahir dan dibesarkan.
Soal tantangan, Yonni mengaku tidak terlalu memikirkannya. Ia tidak terbebani dengan jumlah penonton atau kenaikan followers. Ia mengunggah video karena memang menyukainya, bukan untuk mengejar popularitas. Jika videonya naik dan viral, itu ia anggap sebagai bonus.
Kendati begitu, popularitas kadang datang bersamaan dengan tindakan catcalling yang entah mengapa masih marak di media sosial. Dari sebelum hingga sesudah viral, pesan di media sosial terus berdatangan di akun Yonni. Pesan bernada gombal, modus, hingga permintaan tidak pantas terpaksa ia abaikan. Bahkan pernah ada yang menawarinya dengan bayaran tertentu.
“Itu keterlaluan sekali, dikira saya apaan,” katanya sambil tertawa.
Salah satu kejadian lucu dalam hidupnya yang masih terekam hingga kini adalah saat aktif di Saka Bhayangkara Polres Mamasa, di masa-masa pandemi. Ia ikut kegiatan penyemprotan disinfektan.
Ketika hendak melewati tali yang terikat di antara mobil pemadam, dua temannya berhasil melompat dengan aman. Namun saat giliran Yonni, tali itu tiba-tiba menegang dan mengenai kakinya hingga ia terjatuh tepat di tengah kerumunan orang. Kejadian itu sampai membuat tim medis datang, meski ia sebenarnya tidak apa-apa.
“Walaupun lucu lebih ke malu sih, karena orang lagi kumpul dan ini di tengah-tengah jalan,” katanya.
Di mata orang-orang yang baru mengenalnya, Yonni kerap dianggap sombong dan cuek. Padahal, ia justru pribadi yang santai, mudah bergaul, dan cukup ekstrovert. Kesan tegas dan keras yang melekat padanya lebih banyak terbentuk dari pengalaman organisasi dan jabatan yang pernah ia pegang.
Bagi orang yang benar-benar dekat dengannya, Yonni dikenal sangat manja. Ia adalah anak tunggal yang dibesarkan mama, opa dan oma-nya, membuat kasih sayang yang ia terima berlipat.
“Manjanya dobel,” katanya sambil tertawa.






