Perjalanan Sunyi Seorang Yonni Arvilia

oleh

Bukan karena ia tidak suka media sosial, melainkan karena trauma dan rasa takut yang tertinggal.

Trauma itu tidak sepenuhnya hilang hingga kini. Yonni mengaku rasa takut untuk di-bully kembali masih ada.

“Saya tidak masalah sebenarnya soal bully-an tersebut tapi waktu itu yang mem-bully adalah teman saya sendiri, di saat mental saya belum stabil,” ujarnya jujur.

Namun seiring waktu, ia perlahan belajar berdamai dengan dirinya sendiri. Yonni juga mulai lebih selektif dalam berteman. Beberapa orang yang dulu menyakitinya pun telah meminta maaf seiring bertambahnya usia dan kedewasaan. Tak ada lagi ganjalan besar, meski sisa trauma itu kadang masih muncul.

Ia mulai melawan ketakutan itu, pelan-pelan kembali aktif bermedia sosial, dan menemukan kebebasan atas dirinya sendiri. Belakangan, kontennya mulai banyak mengangkat soal alam. Namun, itu pun murni karena keisengan, bukan karena niat menjadi konten kreator.

“Saya bahkan belum pernah benar-benar berpikir untuk menyebut diri saya sebagai konten kreator,” ujarnya.

Konten alam pertama yang ia buat adalah tentang Air Terjun Sambabo yang terletak di Ulu Mambi Barat, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Ia mengakui belum konsisten, karena sejauh ini baru satu konten alam yang ia unggah.

Meski begitu, ia berharap video tersebut bisa menarik wisatawan berkunjung ke destinasi itu, membantu UMKM setempat, dan yang paling penting, membuat pengunjung lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

“Semoga yang datang tidak buang sampah sembarang,” harapnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.