Selain itu, disampaikan pula bahwa, dengan berbagai tantangan yang dihadapi perempuan termasuk beban gender yang dilabelkan, perempuan masih mampu berdaya dan bergerak jika suaranya didengar dan didukung melalui gerakan kolektif, olehnya itu diskusi kali ini bukan hanya tentang angka kekerasan, tapi bagaimana perempuan memulai langkah untuk berdaya dan bersuara.
Bagian paling menyentuh dari kegiatan ini adalah sesi Perempuan Bercerita, sebuah ruang yang disiapkan untuk mendengar kisah langsung dari perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam berbagai bentuk. Sesi ini menghadirkan 5 perempuan dari latarbelakang yang berbeda dengan masing-masing cerita perubahan yang mereka alami. Mereka ialah Marhamah-Relawan Merah Putih, Hasnaeni-Sekolah perempuan Indonesia, Nopi-Difabel Preneur, Zahratun Nisa-Pelajar, dan Isnawati-Mahasiswa.
Satu per satu mereka bersuara, menceritakan pengalaman hingga bagaimana menerima diri dan bangkit untuk bergerak. Ada yang bercerita tentang perundungan, ada yang berbagi pengalaman bangkit dari lingkungan yang tidak mendukung, juga ada teman difabel yang saat ini sudah memulai UMKMnya.
“Menurut saya perempuan hidup bukan hanya untuk menempati ruang, tapi kenapa tidak kita yang menciptakan ruang, dari situ saya mau bergerak, kita sebagai perempuan tidak hanya sekedar hadir tapi juga bisa berdaya. Akhirnya saya bersama adik-adik di kalukku mengumpulkan sumber daya, lahirlah Pustaka Merah Putih, Sanggar Merah Putih dan Relawan Merah Putih yang masih berjalan sampai saat ini.” Urai Marhamah yang akrab disapa Ocha’ sebagai pendiri komunitas Merah Putih di Kalukku.
Awal dari Gerakan Panjang
Kegiatan ditutup dengan membuat komitmen bersama untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan serta menciptakan ruang aman dan inklusif bagi perempuan di Sulbar. Salah satu komitmen datang dari teman tuli, Saada yang bersedia membantu teman perempuan yang ingin belajar bahasa isyarat. Hal ini kemudian menjadi catatan agenda Sorai Puan selanjutnya.
“Perkenalkan nama saya Saada, saya berkomitmen membantu teman-teman belajar bahasa isyarat agar kita dapat berkomunikasi dengan nyaman.” Kata Maya Sarmila selaku Juru Bahasa Isyarat yang menerjemahkan bahasa dari teman tuli Saada.
Ada pula pendapat dari Aprilya Sewang dari Forum Genre Sulawesi Barat, berharap kegitan-kegiatan dengan isu perempuan dapat tetap ada, bukan hanya di momentum 16 HAKTP saja. “Kegiatan hari ini bisa membuka wawasan bagi perempuan, bagaimana cara menghadapi kekerasan terhadap perempuan, bagaimana menjadi orang yang bisa ditempati untuk bercerita, harapan saya, kegiatan ini bisa diperluas lagi, bukan hanya pada peringatan 25 november saja, tapi bisa dilaksanakan kapanpun.” Sebut Apriliya.
Hal itu senada dengan harapan Sarliana, dari Yayasan Gema Difabel. Menurutnya, kegiatan ini menjadi titik awal dari upaya membentuk ruang yang aman dan saling mendukung bagi perempuan. “Kami berharap dan berusaha, gerakan ini tidak berhenti dimomen ini saja, tapi dapat terus tumbuh. Semoga Sorai Puan ini bisa menjadi ruang baru untuk sama-sama belajar, bersuara, dan bergerak demi terciptanya ruang aman dan inklusif di Sulawesi Barat.” Kata Nannach, sapaan akrabnya.
Dengan lahirnya Sorai Puan, perempuan Sulawesi Barat kini memiliki ruang baru untuk bersuara. Ruang dimana cerita menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi gerakan. (ykm/dhl)







