Mamuju, Mesakada.com — Perempuan dari berbagai komunitas di Sulawesi Barat kini memiliki ruang baru untuk bersuara, yakni Soeara untuk Ruang Aman dan Inklusif bagi Perempua (Sorai Puan). Ruang ini menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat ruang aman dan inklusif bagi perempuan, termasuk perempuan disabilitas.
Inisiatif ini lahir di momentum 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) yang diperingati global mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember. Sorai Puan digagas sebagai ruang bagi komunitas perempuan, aktivis muda, pelajar, mahasiswa, dan jaringan difabel untuk saling mendengar, saling mendukung, dan bergerak bersama.
“Kami ingin ada ruang dimana perempuan tidak harus kuat setiap saat. Ruang yang menerima saat kita menangis, saat kita marah, dan ruang yang mendengar suara kita tanpa takut disalahkan.” ujar Rosida (Komunitas Manakarra Book Club yang menjadi bagian dari Sorai Puan) saat memperkenalkan Sorai Puan pada forum dialog publik
Sebagai kegiatan perdana, Sorai Puan menggelar Diskusi Publik sebagai puncak peringatan16 HAKTP bertema ‘Dari Cerita ke Gerakan – Perempuan Ciptakan Ruang Aman dan Inklusif’ pada 8 Desember 2025, di Gedung Mini Teater Dispusip Mamuju. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan FAMM Indonesia melalui Yayasan Karampuang dan dukungan Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Yayasan Gema Difabel Sulawesi Barat, serta dukungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju.
Diskusi dibuka dengan pemaparan situasi perempuan Sulbar berdasarkan data SIMFONI-PPA. Tercatat, bahwa kekerasan paling banyak terjadi di rumah, diikuti kekerasan di sekolah dan ruang publik. Jika melihat usia, data menunjukkan yang paling banyak mendapat kekerasan ialah remaja usia 13-17 tahun. Akses terhadap layanan pengaduan dan pendampingan masih terbatas, terutama bagi perempuan di desa dan perempuan disabilitas.
“Dari data ini, kita bisa melihat kondisi perempuan di Sulawesi Barat, bagaimana kerentanan anak, bahkan ditempat yang harusnya aman, yaitu rumah. Dan data yang ada ini masih kasus yang terlapor, kita belum bicara mengenai kasus-kasus yang tidak terlaporkan.” papar Dian Hardianti Lestari, sebagai pemantik diskusi dari Yayasan Karampuang yang juga menjadi bagian dari Sorai Puan.





