Mewarisi Keteladanan Oei Tiek Piao, Sang Perintis Ekonomi Mamuju 

oleh

Laporan Khusus: Adhe Junaedi Sholat 

Kamu lahir di Mamuju, kalau besok lusa kamu punya kemampuan, bangunlah tanah kelahiranmu. Sebab orang Mamuju itu sangat familiar dan sangat menghargai kearifan lokal. Sipakalaqbiq Sipakatau,”  

Itulah sepenggal pesan yang masih teringat di kepala Iming Wijaya, putra dari Alm. Oei Tiek Piao, yang bagi anak dan cucunya sering kali memanggilnya dengan akronim OTP.

OTP lahir di China daratan Suku FU Qing tahun 1915. Sebuah daerah yang berdasarkan sejarah, penduduknya banyak meninggalkan kota kelahiran mereka untuk mencari penghidupan baru. Termasuk OTP yang memilih merantau dari China ke Indonesia sekira tahun 1930-an.

“Almarhum ayah saya merantau ke Indonesia dari China langsung ke Mamuju, yang saat itu pamannya lebih dulu merantau ke Mamuju. Tepatnya beliau langsung berdomisili di pesisir Pantai Kayu Mate, Kalukku,” kata Iming.

Perjalanan OTP tidak berhenti di situ, menurut Iming, ayahnya itu kemudian harus pindah dari Kalukku ke Mamuju (saat ini kota) karena gerakan politik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1950. Sebuah gerakan yang menginginkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Kalukku saat itu dianggap menjadi salah satu daerah yang tidak aman.

Tahun itu memang telah terjadi pemberontakan DI/TII di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar, pemimpin Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Pemberontakan di wilayah Sulsel berjalan cukup lama, yakni sejak 1950 hingga 1965.

“Saat itu kondisi di Kalukku tidak aman. Saat di Mamuju, beliau (OTP) mulai membuka usaha jual beli hasil bumi, yakni Kopra dan lain-lain,” tutur Iming.

Namun di tahun 1959, OTP kembali harus mengungsi ke Kota Parepare, Sulsel, setelah Mamuju dikuasai gerombolan DI/TII. Nanti di tahun 1967, OTP baru bisa kembali ke Mamuju dan bisa fokus melanjutkan usahanya kembali. Sejak saat itu, OTP dan keluarga berdomisili di Mamuju hingga melahirkan empat generasi sampai saat ini.

Pada periode ketika kondisi Mamuju belum sepenuhnya kondusif, OTP tetap berani mengambil risiko untuk kembali dan menetap di Mamuju. Padahal, sebelumnya OTP telah membuka restoran dengan usaha yang sudah cukup besar di Parepare.

Iming bercerita, dirinya pernah menanyakan ke ayahnya kenapa ia memilih kembali ke Mamuju padahal situasinya masih penuh ketidakpastian. Namun ayahnya menjawab dengan sederhana namun sarat makna.

“Ayah saya bilang, kasian masyarakat Mamuju kalau kita tidak bantu, mereka mau belanja di mana,” jelasnya. 

No More Posts Available.

No more pages to load.