“Ayah saya bersedia menanggung uang sekolah anak-anak yang mau lanjut sekolah di Makassar. Saat ini masih banyak mantan-mantan anak sekolah yang ikut diprogram ayah saya. Antara lain bapak Almalik Pababari dan Thamrin Syakur. Masih ada beberapa yang masih hidup,” tuturnya.
Pernah suatu ketika, Iming menanyakan apa alasan ayahnya yang ingin sekali agar masyarakat Mamuju mendapatkan pendidikan layak di Makassar. Ayahnya saat itu spontan menjawab kalau mau membangun Mamuju bangun dulu SDM-nya.
“Saat itu di Mamuju hanya ada satu orang memiliki titel, yakni Drs. Thios, mohon koreksi kalau salah. Dan terbukti apa yang dikatakan beliau, saat ini warga Mamuju sudah banyak yang punya titel,” jelas Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulbar, itu.
Keteladanan OTP yang suka berbaur dengan masyarakat Mamuju dan memiliki jiwa sosial tinggi membuat ia dijuluki Ance’ Lajo. Nama itulah yang kemudian melekat kepada OTP di kalangan masyarakat Mamuju.
“Agar masyarakat bisa lebih gampang mengingat orang tua saya, masyarakat panggil orang tua saya Ance’ Lajo. Dalam bahasa Mamuju berarti tuan tinggi,” ungkap Iming.
Keluarga OTP atau Ance’ Lajo sudah generasi keempat. Memiliki sepuluh anak, 30-an cucu dan cicit. “Empat anak perempuan dan enam anak laki-laki. Saya anak pertama laki-laki,” ujar Iming.
Sebagai generasi kedua, Iming Wijaya berkomitmen untuk tetap mempertahankan apa yang telah dilakukan ayahnya, Ance’ Lajo. Bagaimana tetap menjadi orang dermawan. OTP atau Ance’ Lajo sendiri meninggal pada tahun 1975 dan dimakamkan di Makassar.
“Makanya saat kami mau investasi bangun hotel Maleo banyak teman-teman saya bilang ‘apa kamu tidak salah mau bangun hotel di Mamuju? Kenapa tidak di Makassar saja?’ Jawaban saya hanya satu. Saya ini orang Mamuju, wajib bagi saya untuk berusaha membangun tanah kelahiran saya,” sahut Iming.
Keteladanan dan kedermawanan OTP atau Ance’ Lajo selalu kenang keluarga besar setiap tahun, dirangkaikan dengan kegiatan Cap Go Meh atau rangkaian perayaan tahun baru Imlek yang dilakukan setiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa atau dua pekan setelah Tahun Baru Imlek.
Kata Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien, “Cap Go” yang artinya lima belas dan “Meh” artinya malam. Cap Go Meh juga dikenal dengan nama Festival Lentera atau Lampion. Dalam perayaan ini, orang-orang akan pergi keluar untuk melihat bulan, menerbangkan lampion, makan bersama keluarga atau kerabat dekat.
Di Indonesia, tradisi Cap Go Meh sekarang tidak hanya dirayakan lewat Festival Lampion saja. Beberapa daerah di Indonesia menyemarakkannya dengan konvoi barongsai dan naga, hingga pertunjukan Tatung. Tatung akan mempertunjukkan orang-orang dengan kemampuan khusus untuk “dipinjam” jiwanya oleh dewa atau dewi. (ajs)







