Jawaban itu menggambarkan bahwa OTP tidak hanya berpikir soal bisnis, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap masyarakat. Ia bukan hanya berdagang, tetapi ikut memastikan denyut kehidupan ekonomi tetap berjalan di Mamuju pada masa-masa sulit.
Seingat Iming, setiap kali musim angin barat mulai datang, ayahnya selalu bersiap lebih awal. Ia menyiapkan persediaan beras, gula, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya untuk disimpan. Langkah itu bukan tanpa alasan. Pada masa itu, belum ada kapal besar yang rutin melayani rute Makassar–Mamuju.
Transportasi laut masih mengandalkan Perahu Bago dari Majene. Ketika angin barat datang dan gelombang meninggi, tak ada satu pun perahu yang berani berlayar. Akibatnya, distribusi barang otomatis terhenti. Pasokan kebutuhan pokok dari luar daerah tersendat, bahkan bisa kosong sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat terancam kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Iming, persediaan sembako yang disiapkan ayahnya bukan hanya untuk kebutuhan keluarga. Beras dan bahan pokok itu juga dijadikan cadangan pangan bagi para PNS dan anggota Polri di Mamuju. Kala itu, jatah beras bagi PNS dan Polri belum diuangkan seperti sekarang.
Setiap bulan mereka mendapatkan beras secara fisik. Namun, ketika musim angin barat datang dan kapal tidak berlayar, jatah tersebut sering kali tidak bisa diangkut ke Mamuju. Dalam situasi seperti itu, almarhum ayahnya kerap meminjamkan lebih dulu persediaan beras yang ada.
Setelah kapal kembali beroperasi dan jatah beras mereka tiba, barulah diganti seperti semula. Sistemnya sederhana, dilandasi saling percaya dan kebutuhan bersama. Berbeda dengan sekarang, tunjangan beras bagi PNS dan anggota Polri sudah dikonversi dalam bentuk uang, sehingga tidak lagi bergantung pada distribusi fisik seperti masa itu.
Kemudian, pada masa Bupati Mamuju Hapati Hasan, pemerintah daerah menghadirkan kapal laut berkapasitas 15 ton yang diberi nama KM Manakkarra. Kapal inilah yang menjadi satu-satunya armada yang melayani rute Mamuju–Makassar, sehingga transportasi laut dari dan ke Mamuju dapat berjalan lebih lancar di tengah keterbatasan saat itu.
“Orang tua sayalah yang selalu menyiapkan muatan dari Mamuju menuju Makassar. Ayah saya termasuk perintis pengusaha yang turut membuka dan menggerakkan roda perekonomian Mamuju,” ungkap Iming.
Bahkan pada tahun 1967, kata dia, ayahnya dikenal sebagai satu-satunya pengusaha yang aktif menghidupkan aktivitas ekonomi di Kabupaten Mamuju. Saat Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK) masih menjabat sebagai Ketua DPRD Mamuju, bahkan sempat muncul wacana untuk mengabadikan nama OTP sebagai nama salah satu jalan di Mamuju.
Hal itu direncanakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan dedikasinya sebagai perintis pengusaha di daerah ini. Namun hingga kini, wacana tersebut belum terealisasi. Saat itu, SDK pernah menyampaikan langsung kepada Iming bahwa penghormatan tersebut layak diberikan atas kontribusi almarhum dalam membangun perekonomian Mamuju di masa-masa awal.
OTP tidak hanya dikenal sebagai pebisnis andal, ia juga sangat peduli dengan pendidikan masyarakat Mamuju. Ia bahkan meminta Bupati Mamuju 1964-1965 Alm. Abdul Madjid Pattaropura agar melanjutkan sekolah anak-anak Mamuju ke tingkat setara SMA di Kota Makassar, karena tahun itu belum ada satu pun sekolah setara SMA di Mamuju.







