Majene, Mesakada.com — Kasus bunuh diri di Majene menyisakan pilu. Mahasiswi yang bunuh diri diduga karena tertekan pacarnya lebih dulu bunuh dri.
Mahasiswi itu diketahui bernama Siti Nurhalisa (21). Ia pertama kali ditemukan oleh saudari kandungnya, Nurafifah (26).
Saksi, Muhammad Syahrul (30) mengungkapkan, bahwa korban sebelumnya pernah melakukan percobaan bunuh diri dan sempat mendapat penanganan medis di Puskesmas Banggae I, Kabupaten Majene.
Pihak keluarga menyebut, korban mengalami tekanan psikologis cukup berat setelah pacarnya lebih dahulu meninggal dunia dalam peristiwa bunuh diri di Kabupaten Polewali Mandar beberapa waktu lalu.
Sejak kejadian tersebut, korban disebut sering merasa terpukul, menyalahkan diri sendiri, dan menunjukkan perubahan perilaku.
Keluarga menduga kondisi mental korban yang belum pulih pascakejadian tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tindakan nekatnya.
Menurut saudaranya, Nurafifah, sekitar pukul 16.30 WITA ia sempat mengetuk pintu kamar korban untuk mengajaknya bersiap berbuka puasa bersama keluarga. Namun tidak ada respons dari dalam kamar. Karena merasa khawatir, ia kembali sekitar pukul 18.10 WITA dan membuka paksa pintu kamar. Korban ditemukan dalam kondisi terbaring kaku.
Meski demikian, pihak keluarga menolak dilakukan visum maupun autopsi di RSUD Majene. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan resmi yang ditandatangani keluarga.
Pihak kepolisian menyatakan tetap menghormati keputusan keluarga, dan seluruh rangkaian kejadian telah ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Polres Majene juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mental anggota keluarga dan lingkungan sekitar, terutama bagi mereka yang tengah mengalami duka atau tekanan berat.
Bagi siapa pun yang mengalami tekanan psikologis, penting untuk segera mencari bantuan profesional, berbicara dengan keluarga, atau menghubungi layanan konseling terdekat. Dukungan dan perhatian dari orang sekitar sangat berarti dalam mencegah peristiwa serupa. (*)





