Mamuju, Mesakada.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat (Sulbar) mencatat inflasi Januari 2026 mencapai 4,34 persen, tertinggi dalam 12 bulan terakhir, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,21.
Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani menyebut, lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama masyarakat.
“Secara wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 6,94 persen (IHK 111,93), jauh melampaui kabupaten lain. Sementara inflasi terendah tercatat di Majene sebesar 2,69 persen (IHK 109,10),” kata Suri, dalam keterangan rilisnya.
Kesenjangan ini menunjukkan tekanan harga paling berat terjadi di pusat aktivitas ekonomi provinsi. Kenaikan inflasi terutama didorong kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 12,68 persen, disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,81 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,96 persen.
Sebaliknya, beberapa kelompok justru mengalami penurunan harga, seperti pakaian dan alas kaki, informasi dan komunikasi, serta rekreasi dan budaya.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi antara lain tarif listrik, beras, berbagai jenis ikan layang, cakalang, tuna, bandeng, emas perhiasan, bawang merah, rokok SKM dan SPM, telur ayam ras, daging ayam, hingga kelapa.
Sementara komoditas seperti cabai, tomat, bawang putih, gula merah, semen, hingga telepon selulermenahan laju inflasi dengan memberi andil deflasi. (*)





