Mamuju, Mesakada.com — Hujan deras sejak Minggu sore kemarin menjadi awal tragedi di Dusun Tamasapi, Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju, empat warga di sana meninggal dunia.
Tepat pukul 23.15 Wita, tanah longsor melanda, menimbun dua rumah warga di bawah tumpukan material dan pohon tumbang. Dalam gelap malam yang mencekam, jeritan dan isak tangis menyatu dengan suara hujan yang tak kunjung reda.
“Kami turut berbelasungkawa dan menyatakan duka sedalam-dalamnya terhadap korban dan penyintas bencana longsor di Mamuju. Insya Allah, Pemprov selalu hadir di tengah-tengah warga yang terdampak longsor,” ujar Pj Gubernur Sulbar, Bahtiar Baharuddin, Senin, 27 Januari 2025.
Bahtiar segera menggerakkan roda penanganan bencana. Begitu kabar sampai, ia memerintahkan BPBD Sulbar untuk bergerak cepat, berkoordinasi dengan Basarnas, Korem Mamuju, dan Polda Sulbar.
“Saya sudah arahkan Pemkab Mamuju segera buat SK tanggap darurat. Sewa alat berat swasta di Mamuju, lalu arahkan untuk atasi lapangan. Pemkab bisa bayar pakai BTT,” ungkapnya.
Kepala BPBD Sulbar, Yassir Fattah mengungkapkan kondisi di lokasi sangat memprihatinkan. “Medan menuju lokasi sebagian tertutup material longsoran dan pohon tumbang, sehingga evakuasi korban dari TKP hanya bisa dilakukan menggunakan tandu ke mobil ambulans. Listrik padam juga menyulitkan tim melaksanakan evakuasi,” jelasnya.
Tim penyelamat bekerja tanpa henti, menyisir longsoran untuk menyelamatkan siapa pun yang masih mungkin bertahan. Pada pukul 01.00 Wita, korban selamat berhasil dievakuasi menggunakan ambulans milik RS Bhayangkara dan RSUD Mamuju.
Namun, duka mendalam tak terhindarkan. Empat nyawa melayang—Nurlela (24), Nasril (40), Aisyah (4), dan seorang balita berusia 1 bulan. Empat lainnya, termasuk seorang pelajar bernama Ajeng (13), harus menjalani perawatan intensif akibat luka-luka.
Hari ini, rencana pembersihan material longsor dan pohon tumbang telah dimulai oleh BPBD Mamuju. Namun, perasaan kehilangan masih membayangi warga yang selamat.
“Sulbar memang termasuk daerah rawan bencana, khususnya tanah longsor. Kami ingatkan warga di bantaran sungai dan pegunungan agar selalu waspada selama musim hujan,” pesan Bahtiar, menutup pernyataannya dengan nada penuh keprihatinan.
Tamasapi kini menyisakan puing-puing, duka, dan pelajaran. Di tengah bencana, solidaritas tetap menjadi harapan, meski luka yang tertinggal akan membutuhkan waktu untuk pulih. (*)







