Mamuju, Mesakada.com — Dini hari itu, hujan belum reda. Dusun Tapodede, yang tenang di balik bukit Kelurahan Mamunyu, Mamuju, tiba-tiba menjadi panggung bencana. Gemuruh tanah longsor merobek keheningan, membawa serta nyawa dan harapan.
Kapolsek Mamuju, AKP Mustafa, berdiri di tengah kegelapan yang mencekam. Wajahnya memancarkan kelelahan, namun semangatnya tidak surut. Bersama tim gabungan TNI, BPBD, tenaga medis, dan para relawan, ia berjibaku melawan medan berat dan cuaca yang enggan berpihak.
“Proses evakuasi dilakukan sejak malam hingga pagi ini. Medannya sulit, dan cuacanya masih kurang bersahabat,” ujarnya lirih, Senin 27 Januari, dini hari.
Di bawah langit yang terus meneteskan air, tim bekerja tanpa lelah. Material longsor telah merenggut empat nyawa, dan empat orang lainnya terbaring luka berat di rumah sakit. RS Bhayangkara dan RSUD Mamuju menjadi tempat mereka berpacu dengan waktu.
“Tanah longsor ini akibat curah hujan tinggi,” Mustafa menambahkan dengan nada yang tak bisa menyembunyikan kesedihan.
Hingga pagi, rasa kehilangan terasa pekat. Tapi di sela-sela tragedi, solidaritas menjadi pelipur lara. “Kolaborasi yang baik ini sangat membantu mempercepat proses penyelamatan,” katanya.
Namun, pesan peringatan tak lupa ia titipkan. “Kami mengimbau warga di kawasan rawan longsor untuk lebih waspada, terutama saat curah hujan tinggi,” katanya.
Satu tanda kecil dari pergerakan tanah bisa menjadi awal bencana, dan ia tak ingin ada Tapodede lain yang harus menangis.
Di lokasi, para petugas masih menyisir tanah dan menyingkirkan sisa-sisa longsor. Sebuah posko darurat telah berdiri, menjadi sandaran bagi mereka yang kehilangan. Hujan mulai mereda, tapi bayang-bayang malam itu akan tetap tinggal di ingatan mereka.
“Duka mendalam untuk keluarga korban,” ucap Kapolsek Mamuju pelan, sebelum kembali bergabung dengan timnya. (*)






