94 Hektare Sawah di Galeso Polman Terancam Gagal Panen

oleh
oleh
Raja Madi, pengurus kelompok tani Desa Galeso

Polewali, Mesakada.com – Puluhan tahun petani di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), menghadapi persoalan banjir diarea persawahan akibat curah hujan tinggi. Sebanyak 94 hektare sawah produktif milik warga berada di kawasan yang rawan tergenang akibat saluran pembuangan air dan muara sungai yang tidak mampu mengalirkan debit air dengan baik.

Saat hujan deras turun, sawah kembali terendam dan petani terpaksa menanggung risiko gagal tanam hingga gagal panen. Raja Madi, pengurus kelompok tani Desa Galeso, mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung lama. Curah hujan tinggi kerap membuat aliran air tersumbat sehingga genangan masuk ke area persawahan.

“Saluran air yang bermasalah. Jadi kalau datang air hujan, aliran airnya tersumbat akhirnya banjir. Terkadang petani menghambur bibit empat kali, untung kalau bisa panen satu kali pada saat musim hujan,” kata Raja Madi, Senin (5/10/2026).

Kondisi itu membuat masa panen petani Galeso tidak menentu. Saat petani di wilayah lain telah memanen sawah mereka, sebagian petani Galeso masih harus menunggu air surut dan menanam kembali setelah tanaman sebelumnya rusak.

“Kalau daerah rentan banjir kadang panen kadang tidak sesuai dengan normalnya. Ini kita baru bisa panen, sedangkan yang lain sudah lama panen, kurang lebih sebulan yang lalu,” ungkapnya.

Menurut Raja, salah satu persoalan utama berada pada saluran irigasi atau bedeng yang mengalami pendangkalan. Sedimentasi di bagian muara membuat aliran air tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Kendalanya saluran irigasi yang buntu karena muara sedimennya,” katanya.

Persoalan serupa disampaikan Zainal Abidin, petani Desa Galeso. Ia mengatakan hujan dengan intensitas tinggi selama satu hingga dua jam saja dapat membuat kawasan persawahan kembali tergenang.

“Saat terjadi curah hujan yang sangat tinggi, di mana curah hujan itu sudah mencapai satu sampai dua jam, itu pasti genangan air atau biasa kita sebut banjir itu pasti akan terjadi. Dan penyurutan air itu sangat lambat diakibatkan dari dangkalnya sungai pembuang menuju muara,” ujarnya.

Banjir tidak hanya menghambat waktu tanam, tetapi juga meningkatkan risiko petani kehilangan hasil produksi. Zainal mengatakan petani bahkan dapat menanam dua hingga empat kali sebelum memperoleh satu kali panen.

“Kalau potensi gagal panen pada musim hujan terjadi itu bisa saya katakan sangat besar. Karena kita sampai menanam dua sampai tiga kali, bahkan empat kali baru bisa panen. Dan tiba nanti pada musim panennya, itu juga sudah terjadi serangan hama,” katanya.

Menurut Zainal, hujan yang kembali turun ketika tanaman memasuki masa panen semakin memperbesar risiko kerusakan tanaman.

“Apabila ada terjadi lagi intensitas hujan pada saat tiba musim panen, nah itu akan bisa lebih gagal panen lagi,” ujarnya.

Dampaknya terlihat pada hasil produksi. Dalam kondisi yang tidak normal, satu hektare sawah hanya menghasilkan sekitar 50 hingga 60 karung gabah. Padahal, dalam kondisi normal, produksi dapat mencapai 70 hingga 80 karung per hektare.

“Kalau kita hitung dari luas lahan, biasanya di luas lahan satu hektare itu bisa mencapai 50 sampai 60 karung. Itu sekarang tidak maksimal, karena hasil panen yang terjadi di bawah dari seharusnya. Maksimalnya itu tidak lari dari 70 sampai 80 karung seharusnya,” tutupnya.

Bagi petani Galeso, persoalan banjir bukan sekadar genangan yang datang ketika hujan. Pendangkalan saluran dan buruknya pembuangan air membuat siklus pertanian mereka terus dibayangi ketidakpastian antara menanam kembali, menunggu air surut, atau kehilangan hasil panen.(ifn/ajs)

No More Posts Available.

No more pages to load.